20.1.15

Cermat Memilih Kosmetik


Astaghfirullah.

Respon saya pertama kali membaca artikel-artikel yg ada di internet tentang cream kecantikan berbahaya ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa ada produsen yg dengan sengaja menciptakan cream kecantikan berbahaya dan berbohong kepada konsumen demi mendapat uang.

Dan yg lebih mencengangkan lagi, ternyata peredaran cream kecantikan berbahaya ini sudah tersebar di Indonesia. Banyak sekali distributor/penjual yg menjual dengan beragam merk baik via online maupun offline. Herannya, sudah banyak pula konsumen yg tertarik bahkan ketergantungan dengan cream ini. Hanya karena iming-iming 'memutihkan lebih cepat'.

Tahukah kalian bahwa sesuatu yg instan memang tidak baik. Itu benar, coba lihat efek yg ditimbulkan dari cream kecantikan berbahaya ini. Mungkin saat ini anda memang sedang merasakan betapa cerahnya wajah anda, betapa cantiknya anda saat ini. Namun, apakah anda tahu efek sampingnya?

Anda bisa mengalami iritasi ringan bahkan hingga terkena kanker kulit. Tipikal cream kecantikan ini biasanya membuat anda ketergantungan, dimana ketika anda mulai tidak menggunakan, anda akan merasakan wajah anda mulai berjerawat. Sehingga, mau tidak mau anda harus terus mengkonsumsinya.

"Tapi ini harganya mahal lho? Dan emang cream racikan dokter." atau "Ini cream racikan apoteker, ini aman dan hasilnya bagus kok".

OMG hello.. Mana ada dokter atau apoteker dengan sengaja meracik cream kecantikan dan mengemasnya dengan tempat yg lebih mirip seperti tempat cat tembok? 

FYI yaa, cream kecantikan harusnya berbeda untuk setiap orang. Dokter tentunya akan memeriksa kondisi wajah anda terlebih dahulu sebelum meresepkan. Setelah dokter tahu, dokter akan meresepkan cream kecantikan yg sesuai jenis kondisi wajah anda. Dan tentu, pembuatan/proses meracik cream kecantikan ini haruslah dilakukan oleh Apoteker atau Asisten Apoteker dengan STERIL. Resep ini HANYA BISA DITEBUS SATU KALI. Setelah habis, anda DIWAJIBKAN untuk kontrol kembali ke dokter untuk tahu cream kecantikan apa yg akan digunakan selanjutnya.

Bayangkan dengan cream kecantikan berbahaya yg banyak beredar di pasaran, cream kecantikan yg bisa digunakan untuk setiap orang. Anda juga tidak tahu apakah proses meraciknya steril. Semua diracik dalam jumlah sangat besar. Sedangkan seharusnya satu resep hanya untuk satu pasien dan satu kali penebusan. Bisa anda bayangkan?

Sekali lagi, saya akan mengajak anda membayangkan kembali. Berapa harga cream kecantikan yg anda beli tanpa ijin BPOM ini? Ratusan ribu bukan? Anda tahu berapa harga yg dipasang oleh produsen tak bertanggung jawab ini? Hanya kurang dari 9.000/kg. Sudah tahu kira-kira berapa untung produsen dan penjual cream kecantikan berbahaya ini?

Sekarang anda masih ingin menjadi lebih putih secara instan? Anda masih ingin membeli cream kecantikan tanpa resep dokter? 

Jadi cantik boleh, tapi anda harus think smart sebelum membeli dan menggunakan. Sayangi kulit anda daripada harus lebih cantik dalam waktu singkat 😊

*tulisan ini saya buat atas pengalaman pribadi sebagai mantan pengguna cream kecantikan abal-abal dan menurut pengalaman saya bekerja di klinik kecantikan*
Artikel by Ira P

29.10.14

Welcome Back

Hai..

Sudah terlalu lama aku membiarkan blog ini diam begitu saja. Tanpa pernah mengisinya dengan tulisan-tulisan lagi, bahkan aku sempat mengacaukannya dan berpindah ke situs tetangga sebelah. Ya, mungkin kalian sempat menemukan aku di tempat lain, seperti hanyakatakita.blogspot.com atau secangkiraksara.wordpress.com

Aku memang sempat aktif di kedua blog tersebut. Hingga akhirnya sekarang aku memutuskan bahwa aku hanya ingin mengurus satu blog ini. Mari kita tinggalkan saja kedua blog tersebut dan bertahan pada blog yang sudah menemaniku selama 3 tahun lebih.

Banyak yang bertanya mengapa aku harus membuat blog baru, dimana blog ini sempat mengalami kenaikan terus di statistik viewernya. Jawabannya hanya satu, aku bosan. Aku sempat bosan jika terus menerus menulis di blog ini. Semakin bertambahnya usia, aku merasa bahwa postingan lamaku hanyalah sebuah tulisan anak-anak yang berusaha mengerti apa itu cinta, apa itu kehidupan dengan gaya tulisannya yang sedikit berlebihan.

Ya, aku dulu memang sok tahu. Sok-sokan patah hati lalu galau menulis. Sok-sokan jatuh cinta lalu bahagia menulis. Terlalu kekanakkan. Maka dari itu aku membuat blog-blog baru, yang tujuannya aku hanya ingin mengubah gaya tulisanku. Aku ingin menulis dengan gaya yang sedikit dewasa. Akhirnya tersalurkanlah pada kedua blog yang kusebut tadi.

Aku seakan kacang lupa pada kulitnya. Pergi meninggalkan begitu saja blog yang sudah mengajarkanku banyak hal, blog yang sudah bersedia menjadi wadah berlatihku untuk menulis.

Hingga akhirnya ketika aku kembali sign in di akun blogspotku dan mendapati bahwa hampir setiap hari ada viewer/pengunjung yang membuka blogku. Aku tak tahu alasan mereka membuka blogku, mungkin hanya sekedar tak sengaja membuka, membaca cepat, kemudian close dan beralih ke blog lain. Tapi dengan mereka membaca cepat, statistik viewerku bertambah setiap harinya. Dari situlah mungkin aku berfikir bahwa masih ada yang berminat, walau hanya tak sampai satu menit mereka menutup kembali blogku.

Aku pun semakin bersemangat untuk membereskan blogku yang sempat berantakan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali aktif menulis di blog ini, blog pertamaku.

Mungkin kalian akan berfikir bahwa siapalah aku ini? Merasa dibutuhkan, merasa dinanti-nanti, kepedean dan bla bla bla. Tapi hanya dengan kepedean aku kembali menulis, kegiatan yang sudah lama sekali aku tinggalkan. Bahkan ketika aku harus bersusah-payah membeli laptop hanya ingin menulis, sempat aku geletakkan. Aku lupa tujuan awalku, tujuan awal membuat blog, tujuan awal membeli laptop hanya karena nggak ingin bergantian komputer.

Sempat terfikir olehku untuk menghapus semua postingan lamaku. Namun apalah arti aku menghapus semuanya. Tulisan-tulisan itulah yang akan menjadi semangatku untuk menulis lebih baik dan lebih baik lagi. Tulisan-tulisan itulah yang akan menjadi tolak ukurku, seberapa berhasilkah aku sekarang. Aku pun hanya menghapus beberapa postingan yang menurutku sudah tak patut untuk diterbitkan lagi.

Baiklah tak perlu terlalu banyak basa-basi disana-sini.

Selamat datang dan selamat kembali di blog yang bukan lagi berjudul Simply Toscha, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Secangkir Aksara.

Mari kita buka lembaran baru bersama.

Happy Reading!!


love,
IP

30.4.13

Seperti detik yang tak berlalu dengan cepat. Seperti bosan yang kian membelenggu. Aku disini masih menunggu di ujung penantian.

Perempuan-

21.4.13

Bidadari-Bidadari Surga


"Terkadang yang tidak sempurna justru mendatangkan kebahagiaan. Karena ia menyimpan berjuta-juta ketulusan dalam dirinya."

12.4.13

Bukan Untuk Kita



"Ada kalanya kamu melepaskan apa yang kamu punya untuk yang lain. Seperti cinta yang tak selamanya untuk kita." -toscha-

Senja yang begitu menentramkan. Bukan, bukan hanya karena perpaduan jingga di langit yang begitu sempurna. Juga bukan hanya karena secangkir kopi hitam yang menggoda yang tersaji di atas meja. Tapi karena aku tengah menatap dua bola mata yang begitu indah yang kini juga tengah berusaha menatap ke dalam mataku.

Tatapan matanya dan senyumannya selalu membuatku merasakan kehangatan yang menjalar. Ia selalu sukses membuatku nyaman ketika berada di dekatnya. Karena itu lah aku tak pernah lelah untuk mengenalnya selama belasan tahun.

Aku pun berusaha memberikan senyuman terbaikku untuknya.

“Perasaanmu benar-benar baik?” tanya Rayan membuka pembicaraan setelah beberapa menit kami terdiam dan saling menatap.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. berusaha menunjukkan bahwa aku sedang baik-baik saja.

“Kamu bohong.” Ujarnya lagi seolah bisa merasakan apa yang aku rasakan.

“Kamu yang sok tahu, sayang.” Aku tetap mencoba untuk tetap tersenyum padanya. Walaupun hati ini ingin mengatakan bahwa aku kenapa-kenapa, aku sedang tidak dalam keadaan baik, sayang.

Rayan memicingkan matanya. Ia seakan benar-benar tahu apa yang sedang aku rasakan. Tangannya yang kokoh meraih tanganku. Menggenggam dan memberikan kehangatan yang mungkin nanti tak dapat aku rasakan kembali.

“Kamu sudah sejauh ini. Apa kamu akan menyerah? Sebentar lagi kamu akan membuat ibumu tersenyum untukmu di surga. Apa kamu tidak bahagia?” suaranya semakin lembut di telinga. Ia benar-benar lelaki sempurna.

“Sudah bertahun-tahun kamu mencoba untuk melupakanku dan mengabaikanku. Dan kamu berhasil, sayang. Untuk apa lagi kamu harus ragu dengan keputusanmu menjalankan amanah ibumu?” tanyanya lagi.

Aku semakin terdiam. Merenungkan setiap kata yang dilontarkan lelaki yang sudah ada dalam hidupku semenjak umur kami masih sepuluh tahun. Lelaki yang begitu ku cintai selain ibu dan bapakku yang sudah berada di alam yang berbeda denganku.

“Apa semuanya bisa diputar kembali? Aku ingin menyela keinginan ibuku untuk menikahi Bara.” Suaraku mulai bergetar.

“Hei. Dimana Abelle yang ku kenal dulu? Dimana Abelle yang dulu berusaha membahagiakan ibunya meskipun ia harus merelakan kebahagiaannya sendiri? Sebegitu teganya kah kamu, sayang?”

“Mungkin Bara adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Dan aku adalah kebahagiaan sementara yang Tuhan berikan sampai kamu bertemu dengan Bara. Kamu mengerti kan?”

“Tapi Bara berbeda denganmu. Aku tidak menemukan kebahagiaan seperti yang aku dapatkan ketika bersamanya. Terlalu hambar.” Aku mencoba membandingkannya dengan Bara yang seorang manager, berpakaian rapi, dan dengan gaya humor yang garing.

Tentu apa yang ada dalam diri Bara berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Rayan. Lelaki apa adanya yang selalu membuatku tersenyum, tertawa lepas, dan mampu membuatku merasa sangat nyaman.
Tangan Rayan menggenggam tanganku lebih erat lagi. Air mukanya mendadak serius. Tapi tatapan matanya masih hangat. Ia berusaha memelukku lewat tatapan matanya yang begitu teduh itu.

“Jangan mengingkari perkataanmu sendiri, sayang. Bukankah kamu yang sudah menyetujui semuanya? Mencoba melupakanku dan menjalin hubungan dengan Bara? Setelah sejauh ini kamu melangkah, kamu ingin menyerah?”

“Aku hanya tidak ingin melukaimu.”

“Aku jelas sudah terluka semenjak kamu mengatakan bahwa ingin memenuhi amanah ibumu. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku berusaha menghargai keputusan ibumu. Mungkin ibumu ingin kehidupanmu lebih baik. Dan itu bisa kamu dapatkan pada Bara. Bukan denganku.”

“Jujur aku masih terluka. Aku masih berat untuk melepaskanmu dengan lelaki lain. Tapi aku akan lebih terluka lagi ketika kamu yang sudah berusaha pergi meninggalkanku justru ingin kembali ke pelukanku. Aku tidak ingin itu terjadi.”

“Berarti kamu sudah tidak mencintaiku? Hingga aku yang ingin kembali kepadamu pun tak kamu perbolehkan?” tanyaku getir.

“Aku masih mencintaimu sampai detik ini. tapi detik berikutnya, setelah kamu sudah menjadi perempuan milik Bara, aku akan berusaha melupakanmu. Aku berusaha berhenti mencintaimu.”

Rayan melepaskan genggaman tangannya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kafe.

“Aku bahagia bila kamu bahagia. Dan aku sudah memastikan bahwa Bara adalah lelaki yang tepat untukmu. Aku yang menjamin bahwa ia bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.”

“Rayan…” air mataku mulai terjatuh.

“Hapus air matamu, Abelle. Aku sudah terlalu sakit dengan kepergianmu. Jangan kamu tambah dengan air mata yang selama ini tak pernah ingin ku lihat.”

Aku menyeka air mataku yang jatuh. Rayan benar-benar lelaki sempurna yang pernah ku miliki. Selamanya ia tetap menjadi yang sempurna, meski Bara yang ada disisiku nanti. Aku tak pernah menyesal telah mencintainya. Meski hubungan kami tak bisa berjalan selamanya, tapi aku bahagia karena pernah memilikinya. Aku bahagia mengenalnya.

Rayan Sadewa, bersamamu ataupun tidak, aku bahagia. Kamu tetap di hatiku. Maafkan aku.

"Aku selalu benci dengan rindu yang kembali datang ini. Rindu yang tak bertuan. Jika aku pun tak tahu rindu ini untuk siapa, lantas aku harus melepaskannya kemana?"