30.4.13

Seperti detik yang tak berlalu dengan cepat. Seperti bosan yang kian membelenggu. Aku disini masih menunggu di ujung penantian.

Perempuan-

21.4.13

Bidadari-Bidadari Surga


"Terkadang yang tidak sempurna justru mendatangkan kebahagiaan. Karena ia menyimpan berjuta-juta ketulusan dalam dirinya."

12.4.13

Bukan Untuk Kita



"Ada kalanya kamu melepaskan apa yang kamu punya untuk yang lain. Seperti cinta yang tak selamanya untuk kita." -toscha-

Senja yang begitu menentramkan. Bukan, bukan hanya karena perpaduan jingga di langit yang begitu sempurna. Juga bukan hanya karena secangkir kopi hitam yang menggoda yang tersaji di atas meja. Tapi karena aku tengah menatap dua bola mata yang begitu indah yang kini juga tengah berusaha menatap ke dalam mataku.

Tatapan matanya dan senyumannya selalu membuatku merasakan kehangatan yang menjalar. Ia selalu sukses membuatku nyaman ketika berada di dekatnya. Karena itu lah aku tak pernah lelah untuk mengenalnya selama belasan tahun.

Aku pun berusaha memberikan senyuman terbaikku untuknya.

“Perasaanmu benar-benar baik?” tanya Rayan membuka pembicaraan setelah beberapa menit kami terdiam dan saling menatap.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. berusaha menunjukkan bahwa aku sedang baik-baik saja.

“Kamu bohong.” Ujarnya lagi seolah bisa merasakan apa yang aku rasakan.

“Kamu yang sok tahu, sayang.” Aku tetap mencoba untuk tetap tersenyum padanya. Walaupun hati ini ingin mengatakan bahwa aku kenapa-kenapa, aku sedang tidak dalam keadaan baik, sayang.

Rayan memicingkan matanya. Ia seakan benar-benar tahu apa yang sedang aku rasakan. Tangannya yang kokoh meraih tanganku. Menggenggam dan memberikan kehangatan yang mungkin nanti tak dapat aku rasakan kembali.

“Kamu sudah sejauh ini. Apa kamu akan menyerah? Sebentar lagi kamu akan membuat ibumu tersenyum untukmu di surga. Apa kamu tidak bahagia?” suaranya semakin lembut di telinga. Ia benar-benar lelaki sempurna.

“Sudah bertahun-tahun kamu mencoba untuk melupakanku dan mengabaikanku. Dan kamu berhasil, sayang. Untuk apa lagi kamu harus ragu dengan keputusanmu menjalankan amanah ibumu?” tanyanya lagi.

Aku semakin terdiam. Merenungkan setiap kata yang dilontarkan lelaki yang sudah ada dalam hidupku semenjak umur kami masih sepuluh tahun. Lelaki yang begitu ku cintai selain ibu dan bapakku yang sudah berada di alam yang berbeda denganku.

“Apa semuanya bisa diputar kembali? Aku ingin menyela keinginan ibuku untuk menikahi Bara.” Suaraku mulai bergetar.

“Hei. Dimana Abelle yang ku kenal dulu? Dimana Abelle yang dulu berusaha membahagiakan ibunya meskipun ia harus merelakan kebahagiaannya sendiri? Sebegitu teganya kah kamu, sayang?”

“Mungkin Bara adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Dan aku adalah kebahagiaan sementara yang Tuhan berikan sampai kamu bertemu dengan Bara. Kamu mengerti kan?”

“Tapi Bara berbeda denganmu. Aku tidak menemukan kebahagiaan seperti yang aku dapatkan ketika bersamanya. Terlalu hambar.” Aku mencoba membandingkannya dengan Bara yang seorang manager, berpakaian rapi, dan dengan gaya humor yang garing.

Tentu apa yang ada dalam diri Bara berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Rayan. Lelaki apa adanya yang selalu membuatku tersenyum, tertawa lepas, dan mampu membuatku merasa sangat nyaman.
Tangan Rayan menggenggam tanganku lebih erat lagi. Air mukanya mendadak serius. Tapi tatapan matanya masih hangat. Ia berusaha memelukku lewat tatapan matanya yang begitu teduh itu.

“Jangan mengingkari perkataanmu sendiri, sayang. Bukankah kamu yang sudah menyetujui semuanya? Mencoba melupakanku dan menjalin hubungan dengan Bara? Setelah sejauh ini kamu melangkah, kamu ingin menyerah?”

“Aku hanya tidak ingin melukaimu.”

“Aku jelas sudah terluka semenjak kamu mengatakan bahwa ingin memenuhi amanah ibumu. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku berusaha menghargai keputusan ibumu. Mungkin ibumu ingin kehidupanmu lebih baik. Dan itu bisa kamu dapatkan pada Bara. Bukan denganku.”

“Jujur aku masih terluka. Aku masih berat untuk melepaskanmu dengan lelaki lain. Tapi aku akan lebih terluka lagi ketika kamu yang sudah berusaha pergi meninggalkanku justru ingin kembali ke pelukanku. Aku tidak ingin itu terjadi.”

“Berarti kamu sudah tidak mencintaiku? Hingga aku yang ingin kembali kepadamu pun tak kamu perbolehkan?” tanyaku getir.

“Aku masih mencintaimu sampai detik ini. tapi detik berikutnya, setelah kamu sudah menjadi perempuan milik Bara, aku akan berusaha melupakanmu. Aku berusaha berhenti mencintaimu.”

Rayan melepaskan genggaman tangannya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kafe.

“Aku bahagia bila kamu bahagia. Dan aku sudah memastikan bahwa Bara adalah lelaki yang tepat untukmu. Aku yang menjamin bahwa ia bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.”

“Rayan…” air mataku mulai terjatuh.

“Hapus air matamu, Abelle. Aku sudah terlalu sakit dengan kepergianmu. Jangan kamu tambah dengan air mata yang selama ini tak pernah ingin ku lihat.”

Aku menyeka air mataku yang jatuh. Rayan benar-benar lelaki sempurna yang pernah ku miliki. Selamanya ia tetap menjadi yang sempurna, meski Bara yang ada disisiku nanti. Aku tak pernah menyesal telah mencintainya. Meski hubungan kami tak bisa berjalan selamanya, tapi aku bahagia karena pernah memilikinya. Aku bahagia mengenalnya.

Rayan Sadewa, bersamamu ataupun tidak, aku bahagia. Kamu tetap di hatiku. Maafkan aku.

"Aku selalu benci dengan rindu yang kembali datang ini. Rindu yang tak bertuan. Jika aku pun tak tahu rindu ini untuk siapa, lantas aku harus melepaskannya kemana?"