"Ada kalanya kamu melepaskan apa yang kamu punya untuk yang lain. Seperti cinta yang tak selamanya untuk kita." -toscha-
Senja yang begitu menentramkan. Bukan,
bukan hanya karena perpaduan jingga di langit yang begitu sempurna. Juga bukan
hanya karena secangkir kopi hitam yang menggoda yang tersaji di atas meja. Tapi
karena aku tengah menatap dua bola mata yang begitu indah yang kini juga tengah
berusaha menatap ke dalam mataku.
Tatapan matanya dan senyumannya
selalu membuatku merasakan kehangatan yang menjalar. Ia selalu sukses membuatku
nyaman ketika berada di dekatnya. Karena itu lah aku tak pernah lelah untuk
mengenalnya selama belasan tahun.
Aku pun berusaha memberikan
senyuman terbaikku untuknya.
“Perasaanmu benar-benar baik?”
tanya Rayan membuka pembicaraan setelah beberapa menit kami terdiam dan saling
menatap.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum.
berusaha menunjukkan bahwa aku sedang baik-baik saja.
“Kamu bohong.” Ujarnya lagi
seolah bisa merasakan apa yang aku rasakan.
“Kamu yang sok tahu, sayang.” Aku
tetap mencoba untuk tetap tersenyum padanya. Walaupun hati ini ingin mengatakan
bahwa aku kenapa-kenapa, aku sedang tidak dalam keadaan baik, sayang.
Rayan memicingkan matanya. Ia seakan
benar-benar tahu apa yang sedang aku rasakan. Tangannya yang kokoh meraih
tanganku. Menggenggam dan memberikan kehangatan yang mungkin nanti tak dapat
aku rasakan kembali.
“Kamu sudah sejauh ini. Apa kamu
akan menyerah? Sebentar lagi kamu akan membuat ibumu tersenyum untukmu di surga.
Apa kamu tidak bahagia?” suaranya semakin lembut di telinga. Ia benar-benar
lelaki sempurna.
“Sudah bertahun-tahun kamu
mencoba untuk melupakanku dan mengabaikanku. Dan kamu berhasil, sayang. Untuk apa
lagi kamu harus ragu dengan keputusanmu menjalankan amanah ibumu?” tanyanya
lagi.
Aku semakin terdiam. Merenungkan setiap
kata yang dilontarkan lelaki yang sudah ada dalam hidupku semenjak umur kami
masih sepuluh tahun. Lelaki yang begitu ku cintai selain ibu dan bapakku yang
sudah berada di alam yang berbeda denganku.
“Apa semuanya bisa diputar
kembali? Aku ingin menyela keinginan ibuku untuk menikahi Bara.” Suaraku mulai
bergetar.
“Hei. Dimana Abelle yang ku kenal
dulu? Dimana Abelle yang dulu berusaha membahagiakan ibunya meskipun ia harus
merelakan kebahagiaannya sendiri? Sebegitu teganya kah kamu, sayang?”
“Mungkin Bara adalah
kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Dan aku adalah kebahagiaan sementara yang
Tuhan berikan sampai kamu bertemu dengan Bara. Kamu mengerti kan?”
“Tapi Bara berbeda denganmu. Aku tidak
menemukan kebahagiaan seperti yang aku dapatkan ketika bersamanya. Terlalu hambar.”
Aku mencoba membandingkannya dengan Bara yang seorang manager, berpakaian rapi,
dan dengan gaya humor yang garing.
Tentu apa yang ada dalam diri
Bara berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Rayan. Lelaki apa adanya yang
selalu membuatku tersenyum, tertawa lepas, dan mampu membuatku merasa sangat
nyaman.
Tangan Rayan menggenggam tanganku
lebih erat lagi. Air mukanya mendadak serius. Tapi tatapan matanya masih
hangat. Ia berusaha memelukku lewat tatapan matanya yang begitu teduh itu.
“Jangan mengingkari perkataanmu
sendiri, sayang. Bukankah kamu yang sudah menyetujui semuanya? Mencoba melupakanku
dan menjalin hubungan dengan Bara? Setelah sejauh ini kamu melangkah, kamu
ingin menyerah?”
“Aku hanya tidak ingin melukaimu.”
“Aku jelas sudah terluka semenjak
kamu mengatakan bahwa ingin memenuhi amanah ibumu. Tapi apa yang bisa ku lakukan?
Aku berusaha menghargai keputusan ibumu. Mungkin ibumu ingin kehidupanmu lebih
baik. Dan itu bisa kamu dapatkan pada Bara. Bukan denganku.”
“Jujur aku masih terluka. Aku masih
berat untuk melepaskanmu dengan lelaki lain. Tapi aku akan lebih terluka lagi
ketika kamu yang sudah berusaha pergi meninggalkanku justru ingin kembali ke
pelukanku. Aku tidak ingin itu terjadi.”
“Berarti kamu sudah tidak
mencintaiku? Hingga aku yang ingin kembali kepadamu pun tak kamu perbolehkan?”
tanyaku getir.
“Aku masih mencintaimu sampai
detik ini. tapi detik berikutnya, setelah kamu sudah menjadi perempuan milik
Bara, aku akan berusaha melupakanmu. Aku berusaha berhenti mencintaimu.”
Rayan melepaskan genggaman
tangannya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kafe.
“Aku bahagia bila kamu bahagia. Dan
aku sudah memastikan bahwa Bara adalah lelaki yang tepat untukmu. Aku yang
menjamin bahwa ia bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
“Rayan…” air mataku mulai
terjatuh.
“Hapus air matamu, Abelle. Aku sudah
terlalu sakit dengan kepergianmu. Jangan kamu tambah dengan air mata yang
selama ini tak pernah ingin ku lihat.”
Aku menyeka air mataku yang
jatuh. Rayan benar-benar lelaki sempurna yang pernah ku miliki. Selamanya ia
tetap menjadi yang sempurna, meski Bara yang ada disisiku nanti. Aku tak pernah menyesal telah
mencintainya. Meski hubungan kami tak bisa berjalan selamanya, tapi aku bahagia
karena pernah memilikinya. Aku bahagia mengenalnya.
Rayan Sadewa, bersamamu ataupun
tidak, aku bahagia. Kamu tetap di hatiku. Maafkan aku.