Hai, calon lelaki yang akan aku miliki kelak. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku berharap semoga kamu baik-baik saja dimanapun kamu berada sekarang. Aku berharap kamu dalam keadaan serba cukup dan tidak mengalami kesulitan apapun. Disini, ditempat aku berdiri sekarang keadaanku baik-baik saja. Tuhan telah mencukupkan kebutuhanku. Semoga kamu pun demikian.
Maafkan aku yang tak pernah sekalipun menyapamu. Ini adalah surat pertama yang aku tulis. Tahukah kamu bahwa aku membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan diri menyapamu. Dan itu tidak mudah, sayang. Maafkan. Sekali lagi aku meminta maaf. Bukan karena aku tidak peduli terhadapmu. Aku hanya bingung pada apa yang akan aku lakukan.
Mungkin kamu sekarang tengah mempersiapkan dirimu juga, ya? Wah, kita sama. Tapi aku sekarang harus memberanikan diri untuk menyapamu. Aku ingin peduli dengan keadaanmu. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, mungkin dengan cara menyapamu terlebih dahulu.
Jujur, aku sangat gugup ketika menuliskan surat ini. Aku takut jika ada kata-kata yang aku susun ternyata menyinggung dan menyakiti perasaanmu. Aku harus berhati-hati. Karena aku tidak mau kamu kecewa padaku. Dan mengurungkan niatmu untuk bertemu denganku.
Tapi semoga saja kamu tidak pernah berpikiran apa-apa tentangku. Dan aku akan selalu berusaha untuk tidak seperti itu juga. Aku berusaha untuk tetap percaya padamu, pada apa yang kamu pikirkan dan lakukan sekarang. Mungkin itu adalah salah satu cara aku latihan untuk menjadi perempuanmu yang akan patuh dan menghormatimu sebagai suamiku.
Kamu sedang apa disana? Senja diluar begitu indah. Apa kamu tidak ingin melihatnya bersamaku? Kita berdua akan duduk di beranda rumah, menikmati senja yang selalu berwarna jingga, sembari menikmati secangkir kopi hitam yang aku buat. Kita saling bercumbu di cangkir yang sama. Ah, aku sangat memimpikan momen spesial itu. Semoga kamu juga.
Sekarang mari kita bersama-sama mempersiapkan diri kita masing-masing. Aku akan berusaha memantaskan diriku untuk bersanding denganmu. Dan kamu juga mempersiapkan diri untuk memimpin kerajaan kecilmu kelak.
Aku hanya menunggu waktu yang tepat yang telah Tuhan tentukan untuk mempertemukan kita. Semoga saat itu aku terlihat cantik dan kamu terlihat sangat tampan. Aku ingin melihat tatapan matamu yang sayu tapi mampu memelukku dengan penuh kehangatan. Aku ingin melihat senyumanmu yang berhiaskan lesung pipi yang ketika aku melihatnya, ingin aku kecup. Tapi bagaimanapun keadaanmu, aku akan terima. Aku telah siap membuka kedua tanganku untuk menerimamu. Aku telah siap menyambutmu dengan hati dan cintaku yang nanti akan selalu curahkan untukmu.
Sekian dulu ya. Aku ingin kamu berkonsentrasi dengan perjalananmu. Hati-hati dalam menempuh perjalanan yang mungkin akan menjadi perjalanan paling panjangmu untuk bertemu denganku.
Semoga berhasil menemukanku ^^
Perempuan yang selalu menunggumu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar