20.6.11

Peri Kecil itu Aku

Sudah hampir sembilan bulan, aku berada di dalam rahim Mamaku. Aku sungguh sangat menikmatinya. Mungkin aku sudah tak ingat bagaimana rasanya hidup di dalam kandungan dan hidup bergantung pada orang lain. Tapi menurutku, hidup dalam kandungan sangatlah menyenangkan. Karena kita tidak perlu bersusah payah bekerja dan memperjuangkan sesuatu. 

Namun, semakin lama aku berada dalam rahim, semakin aku penasaran dengan keindahan dunia luar. Dunia dimana nantinya aku dapat tumbuh dewasa dan mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku diperkirakan lahir pada tanggal 2 Februari 1995, namun pada tanggal 25 Januari 1995 perut Mama mulai berkontraksi. Saat itu aku sangat ingin keluar dari rahim Mama dan mungkin itu memang sudah waktunya untuk aku dilahirkan.

Seketika itu juga Papa membawa Mama ke salah satu rumah sakit di Surabaya, RS William Both. Dan Tepat pukul 12.00 siang, aku dilahirkan dan aku mulai menghirup udara di dunia fana ini. Suka cita keluargaku sangat aku rasakan. Aku bisa merasakan Mama menangis bahagia karena dapat melahirkan bayi perempuan yang sehat dan cantik. Saat itu baik Mama ataupun Papa belum mempersiapkan nama untukku. 

Meskipun aku sudah dibersihkan dari sisa darah dan sudah diberi selimut, aku masih terus menangis. Rasanya aku belum siap untuk berada di dunia fana ini. Rahim adalah dunia yang sangat menyenangkan bagiku. Namun, siap atau tidak siap, aku harus siap dan memulai kehidupan yang baru bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku.

Suster rumah sakit tersebut membawaku ke pangkuan Mamaku. Mama lantas tersenyum menerimaku dan beliau memberikan ASI pertamanya untuk ku minum supaya aku berhenti menangis. Benar, saat aku berada di pangkuan Mama, aku merasa tenang dan merasa damai. Aku mulai berhenti menangis.

Dua hari setelah hari kelahiranku, Papa datang ke rumah sakit membawa kabar gembira untukku dan Mama. Ya, Papa telah menemukan nama yang bagus untukku, nama yang indah untuk anak perempuannya ini. Papa begitu gembira saat mengutarakan nama tersebut kepada Mama.

"Ira Puspita ."

Mama tersenyum dan mengangguk setuju dengan usulan Papa. Sejak saat itulah aku mempunyai nama, nama yang indah dan penuh makna yang akan aku bawa sampai aku mati, Ira Puspita. Dan aku mulai dibiasakan untuk disapa Ira.

Ya, aku tidak sendirian di keluarga kecil dan bahagia ini. Selain ada aku, Mama dan Papa, ada juga kedua kakak perempuanku dan satu kakak laki-lakiku. Mereka adalah Winda, Lucky, dan Dimas. Mereka saudara kandungku yang juga gembira menerima kehadiranku dalam kehidupan mereka.

Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang lucu dan menggemaskan. Tubuhku gemuk dan aku berkulit putih saat itu (meskipun saat ini aku kurus dan berkulit sawo matang --")

Aku sangat suka difoto saat itu. Aku selalu melakukan pose ketika kamera menghadap ke arahku. Keluargaku juga suka menjadikan aku objek foto mereka. Setiap momen yang membuatku terlihat lucu, mereka selalu mengabadikannya. Bahkan saat sekarang, ketika aku melihat kembali album foto masa kecilku, aku suka tertawa sendiri dan tak menyangka aku secentil itu :d

Aku sering menghabiskan waktuku bersama keluargaku. Dan bisa dibilang akulah anak Mama dan Papa yang paling manja. Aku juga punya sifat nangisan, mudah ngambek kalau keinginanku tak terpenuhi, dan aku sangat jahat terhadap saudara-saudaraku. Kata mereka aku suka judes, tapi kalau sudah dijahili atau dijudesin dan dijahati balik, aku suka nangis sekencang-kencangnya. Hihihii, nakal banget yaa? --" Dan sifat suka ngembek kalau keinginanku tak terpenuhi terbawa sampai kehidupanku sekarang ini. Memang watak tak pernah dapat diubah.

Oh ya, salah satu ciri khasku saat kecil adalah rambutku. Rambutku panjang, hitam dan ikal alias ngombak. Banyak orang yang memuji rambut panjangku ini. Saat sekolah, Mama selalu mengepang rambutku. Karena terlalu panjang, pernah sampai rambutku terlilit di resleting tasku dan aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan rambutku harus dipotong sedikit. Kejadian itu menimpaku saat kelas dua SD --"

Karena rambutku mungkin terlalu indah, saat kelas tiga SD rambutku tiba-tiba dipotong cepak. Semua guru SDku mengecewakan hal itu. Bahkan gara-gara rambutku dipotong, aku jadi tidak mau sekolah lagi. Aku malu dan tidak begitu percaya diri dengan rambut cepakku. Sampai Mama harus mengantarku sampai ke dalam kelas. Haduh, malunya!!

Dan seperti anak lainnya, aku juga tak luput dari namanya cinta monyet saat aku duduk di bangku kelas lima SD. Aku nggak harus menyebutkan namanya kan? Yang jelas dia adalah anak pindahan dari sekolah  lain yang terletak di Bali. Ya, dia adalah anak asli Bali. Dia begitu menawan dimataku saat itu. Hihihii.. Setelah kelulusan SD aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Terakhir aku tau kabarnya, dia kembali ke Bali setelah lulus dari SMP swasta di Surabaya. Yah, aku harus merelakan cinta monyetku pergi selamanya --" (eh, bukan innalillahi lho maksudnya)

Kehidupanku di masa kecil sangatlah menyenangkan. Mulai dari bertengkar dengan teman sekolah, bercanda dan bersenang-senang juga dengan mereka, bergurau dengan keluarga, bertengkar dengan saudara, dimarahin Mama dan Papa, dimarahin guru di sekolah, disetrap gara-gara nggak mengerjakan PR, dan aku harus merelakan kakiku karena aku suka bertingkah aneh dengan sepeda pancalku sepulang sekolah. Bahkan aku pernah sampai mencium jalanan saat perjalanan pulang. Pokoknya seru deh :) dan aku nggak akan pernah melupakan masa kecilku.

"Masa lalu adalah bagian dari sejarah. Dan sampai kapanpun sejarah itu akan menjadi bagian dari hidup kita yang harus kita pelajari dan kita jadikan sebagai cermin untuk melangkah ke masa depan !"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar