Saat itu lagi
panas-panasnya udara di luar. Panas yang menusuk, sinar yang tak kalah
menyilaukannya, membuat siang ini benar-benar terasa gerah. Aku melihat dari
kejauhan anak-anak yang memakai seragam putih biru itu. Ia berjuang melawan
teriknya mentari sembari terus mengayuh sepedanya dengan sisa tenaga yang masih
tersisa. Peluh sudah membanjiri keningnya, baju seragamnya basah oleh keringat,
tapi semangat yang begitu membara masih nampak dengan jelas di raut wajahnya.
Ya, aku pernah
merasakan itu semua. Aku pernah mengalaminya. Aku pernah berjuang melawan
panasnya udara siang hari, aku pernah berjuang mengalahkan teriknya mentari,
dan aku pernah hampir kehabisan tenaga saat aku berusaha mengayuh pedal
sepedaku di jalanan yang penuh tanjakan.
Itulah masa-masa
SMP. Masa-masa dimana aku mulai beranjak remaja. Dimana aku mulai mengalami
pubertas pertama. Hmm, bisa dibilang masa SMP adalah masa yang berkesan, masa
yang paling indah untuk dikenang, dan bisa juga dibilang masa yang mungkin
terlalu konyol yang pernah dialami.
Ya, aku dulu
pernah memakai seragam itu, seragam yang sangat akrab denganku ketika aku
berusia 12 – 14 tahun. Seragam putih-biru yang dulu pernah ku banggakan.
Dan kini,
seragam itu telah ku tinggalkan. Sudah 2 tahun berjalan sejak aku
melepaskannya. Sekarang aku bangga dengan seragam putih-abu-abuku yang
menunjukkan bahwa aku sudah berada di grade yang jauh di atas grade SMP.
Identitasku sekarang
adalah putih-abu-abu, aku sebagai pelajar SMA. Namun, tak lama lagi aku juga
harus melepaskannya. Hitungan beberapa bulan saja sudah di depan mata. Sebentar
lagi aku akan dinyatakan Lulus menempuh studiku selama di bangku SMA (Amin
Allahuma Amin). Aku harus rela, aku harus ikhlas melepasnya. Meskipun susah.
Seragam putih-abu-abu
ini meninggalkan terlalu banyak kenangan. Banyak waktu dan kejadian berharga
yang telah aku lewatkan bersamanya, ketika aku menghabiskan banyak waktuku
dengan teman-teman yang begitu kusayangi, ketika aku mulai merasakan perasaan
yang lebih dengan salah seorang senior dua tahun di atasku, dan ketika aku
mulai mengenal dunia yang jauh lebih luas daripada saat aku duduk di bangku
SMP.
Hatiku bergejolak.
Satu sisi, bahwa
aku sudah tidak sabar untuk segera melepaskan putih-abu-abu ini dan
menggantinya dengan almamater Universitas kebanggaanku :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar