Aku termenung di kamarku sendiri sembari memandang ke arah luar jendela. Semenjak kepergian putri bungsuku, aku lebih banyak menyendiri di kamar. Ya, putriku meninggal karena kecelakaan, meskipun orang yang menabraknya mengaku bahwa putriku lah yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan. Aku jelas tak mempercayainya, karena dia adalah putriku. Aku sangat mengenal putriku. Dia tak mungkin melakukan hal-hal yang begitu bodoh. Dengan alasan seperti itu dan diperkuat dengan kesaksian saksi mata di tempat kejadian perkara, sopir truk yang menabrak putriku dibebaskan dari penjara.
Aku begitu marah dengan keputusan hakim. Tapi aku juga begitu pahit menerima bahwa putriku diduga bunuh diri. Atas dasar apa ia bunuh diri? Setahuku dia tak pernah mengalami masalah dengan banyak orang. Ia juga tak pernah mengalami hal-hal yang begitu mengguncang hatinya.
Sudah tiga tahun semenjak kepergiannya. Kini aku tinggal bersama putra sulungku dan istrinya di Bandung. Aku juga baru saja operasi jantung tiga tahun yang lalu, pas sehari setelah kepergian putriku. Kini, aku hidup dengan tenang di Bandung, meskipun aku masih dibayangi dengan kenanganku bersama putriku.
Besok adalah hari ulang tahunnya, aku ingin ziarah ke makamnya dan membuatkannya kue tart. Aku sudah merencanakan hal ini dengan putraku dan ia mengangguk setuju.
“Ayah? Sedang apa ayah melamun sendiri di kamar?” Tanya Bima, putraku yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.
“Ayah sedang mengingat Angel. Besok adalah hari ulang tahunnya. Biasanya kita selalu merayakannya dengan makan-makan di restoran. Sekarang dia sudah tidur dengan tenang bersama ibumu!”
“Ayah, ada sesuatu yang ingin Bima bicarakan pada ayah. Aku rasa bahwa waktu selama tiga tahun membuat ayah kuat menghadapinya.”
“Apa itu?” Tanya ayah penasaran.
***
Hai, perkenalkan namaku Angelica. Biasanya aku akrab disapa Angel oleh semua orang. Ya, sama seperti namaku, aku adalah seorang gadis cantik yang dilahirkan dari dua orang malaikat baik hati, ayah dan ibu. Hehee..
Sayangnya, ibuku telah meninggal saat aku masih kecil karena kecelakaan. Padahal aku baru saja bisa bersenang-senang dengan ibu. Bermain di taman, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di Bandung, menikmati es cream durian di daerah Cihampelas bersama, dan berbelanja sepatu di Cibaduyut. Aku dan ibu memang gemar mengoleksi sepatu. Bahkan karena sepatu kami terlalu banyak, ayah suka memberikannya pada saudara-saudara kami yang tidak mampu.
Dulu aku sangat dekat dengan ibu, bahkan aku hampir melupakan sosok ayah. Hehee. Namun semenjak kepergian ibu, aku menjadi sangat dekat dengan ayah. Dulu ayah adalah seorang guru, namun karena kepergiaan ibu , ayah memilih keluar dari pekerjaannya dan membuka usaha catering kecil-kecilan. Ayah memilih keluar dari pekerjaannya agar ayah dengan mudah menjaga dan mengawasiku. Makhlum saat itu aku masih berumur 6 tahun. Aku masih sangat butuh perhatian dari orang tuaku.
Tak kusangka ayah ternyata sangat sayang padaku. Oh ya, aku juga mempunyai seorang kakak laki-laki. Namanya Bima. Aku dan Bima hanya selisih dua tahun saja. hal itu membuat kami sangat dekat dan tak jarang Bima selalu melindungiku dari teman-temanku yang hendak berbuat usil padaku. Singkat kata, Bima adalah kakak yang selalu aku andalkan dan aku banggakan. Ia juga pintar dan tak jarang ia suka mengajari dan menemaniku belajar di malam hari bersama ayah.
Kami bertiga menjadi sangat dekat. Bahkan kemana-mana selalu bertiga. Yang awalnya aku jalan-jalan hanya dengan ibu, kali ini setiap aku jalan-jalan selalu dengan ayah dan Bima. Hidup menjadi lebih berwarna saat itu. Andai saja ibu masih hidup, mungkin keceriaan ini akan semakin lengkap rasanya. Oh ya, setiap ulang tahun ibu.. aku, ayah dan Bima selalu ziarah ke makam ibu dan membuatkannya kue tart yang kami nikmati bersama. Kami bertiga selalu bergantian untuk meniup lilin ulang tahun ibu. Aku sangat merindukan ibu.
Suatu ketika aku pernah bertanya pada ayah saat aku dan beliau sedang bersantai di teras rumah.
“Ayah, kenapa ayah tidak menikah lagi?”
Ayah tertawa mendengar pertanyaanku. “Angel ingin ayah menikah lagi?”
“Aku kan hanya bertanya ayah. Bukan berarti aku menginginkan ayah menikah lagi.”
“Jangan ayah. Ibu tiri itu kejam. Seperti di cerita Cinderella itu. Hii, Bima nggak mau punya ibu tiri!” sahut Bima spontan.
Lagi-lagi ayah hanya tertawa mendengar penuturan Bima. “Ayah sangat mencintai ibu. Maka dari itu ayah tidak ingin menikah dengan wanita lain. Cukup ibu wanita satu-satunya dalam kehidupan ayah.”
“Jadi Angel bukan nih. Ayah nggak sayang sama Angel?”
“Ya, sayang.. hanya ibu, Angel dan kak Bima. Hari sudah larut malam, lekaslah ke kamar dan tidur. Ayah sudah mengantuk!”
Kami pun menuruti perkataan ayah dan segera bergegas ke kamar masing-masing. Saat ayah mengira bahwa aku telah kembali ke kamar, aku melihat ayah sedang menangis sembari memandang foto ibu. Sejak saat itu aku sangat yakin bahwa hanya ibu lah wanita yang dicintai ayah. Aku pun nggak akan bertanya seperti itu lagi, karena itu sama saja mengingatkan ayah tentang kenangan ibu.
***
Hari ini adalah hari Sabtu. Aku segera pulang ke rumah begitu jam pelajaran usai. Dari gerbang aku melihat Rahmi dan Sisil, sahabatku yang melambaikan tangan padaku. Aku tahu mereka ingin memanggilku, tapi aku ingin segera pulang dan memberi isyarat pada mereka bahwa aku sedang terburu-buru. Bersyukurlah mereka mengerti.
Oh ya, selain ayah, ibu, dan Bima, ada juga Rahmi dan Sisil, sahabat yang selalu aku sayang. Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang di bangku sekolah menengah atas. Rumah kami juga berdekatan, itulah yang membuat kami tetap dekat. Kami juga sering menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke daerah Cihampelas sepulang sekolah. Kami juga suka belanja baju bersama, makan bersama, dan nongkrong bersama. Banyak banget pengalaman yang aku dapat selama berteman dengan mereka. Banyak kejadian seru dan menyedihkan yang pernah kami alami bersama.
Kami pernah sama-sama kabur dari rumah karena orang tua Sisil tak mengijinkannya pergi untuk rekreasi ke Jakarta. Karena itu aku dan Rahmi membawanya kabur lewat jendela kamarnya. Besoknya orang tua Sisil datang dan memarahi ayah. Setelah meminta maaf, ayah langsung memarahiku atas kenalakanku. Aku hanya bisa tertunduk dan meminta maaf pada ayah. Bersyukurlah baik orang tua Sisil dan ayah tidak ada yang melarang kami untuk tetap berteman.
Ah, aku sampai lupa. Aku harus segera pulang, karena ayah berjanji padaku untuk mengajakku dan Bima jalan-jalan ke Tangkuban Perahu. Hhm, sudah lama aku nggak kesana. Terakhir saat aku berumur tiga tahun dan aku pergi dengan ibu.
“Angel?” sapa seseorang yang berada di ruang tamu rumahku. Bukan, dia bukan Bima maupun ayah. Entah siapakah dia, aku nggak mengenalnya.
“Lupa ya sama aku?” Tanya orang itu lagi begitu aku tak menjawab sapaannya dan malah bengong di tempat.
“Eh, adek kak Bima sudah pulang. Masih inget nggak sama mas ganteng ini?” Tanya Bima yang tiba-tiba keluar dari dapur sembari membawa dua gelas teh hangat.
Aku menggeleng pelan sambil terus berfikir.
“Mario, temen kakak yang pernah kamu taksir!” ucap Bima sambil terkekeh pelan.
“Kak.. kak… kak Mario? temen SMP kak Bima? Kakak kelas Angel?” tanyaku tak percaya.
Bima mengangguk mantap. “Tambah ganteng yaa?”
Mario? Dia .. Dia .. adalah ...
bersambung ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar