18.7.11

My Angel *bagian 2*

 Aku tersenyum kecut dan beruntunglah ayah segera keluar dari kamar. Saat itu juga aku mengalihkan pembicaraan, karena jika pembicaraan tadi diteruskan aku akan terlihat salah tingkah dibuatnya.

 “Ayah, kapan kita berangkat?” tanyaku pada ayah.

 “Nanti setelah makan siang. Kamu segera ganti baju dan siap-siap. Setelah itu bergegaslah ke meja makan.”

 Aku sungguh tak percaya dengan tamu yang kini berada di rumahku. Ya, dia lah cinta pertamaku saat aku baru duduk di kelas satu SMP dan dia di kelas tiga SMP, Mario. dia teman sekelas Bima saat kelas tiga SMP. Dia juga sering main ke rumah, belajar bareng Bima, bahkan kami dulu pernah main bersama. Aku sempat mengatakan pada Bima bahwa aku mulai suka dengan Mario, dan Bima hanya tertawa ngakak mendengarnya. Aku sudah menyuruh Bima untuk tutup mulut, tetapi ia malah mengatakannya pada Mario di depanku, bayangkan di depanku. Oh sungguh betapa malunya aku saat itu.

 Tapi Mario malah menanggapinya dengan senyuman manisnya. Ia tak menjawab apa-apa. semoga ia nggak mengira bahwa aku telah menembaknya. Mario saat itu bertubuh kurus dan tinggi. Nggak sebegitu menarik sih, tapi entah kenapa aku bisa naksir dengannya. Mungkin karena kedua lesung pipinya. Setelah lulus SMP, Mario nggak pernah lagi main ke rumah. Bahkan Bima pun telah lost contact dengannya. Sejak saat itu aku telah mengubur dalam-dalam perasaan itu. Tapi entah mengapa, sekarang Bima membawakanku sosoknya, sosok Mario yang telah berubah.

 Kini, Mario semakin ganteng. Kulitnya putih bersih, badannya lebih tinggi dan nggak kurus-kurus amat. Wajahnya selalu datar dan berkharisma, masih sama seperti dulu. Hanya saja sekarang lebih menawan. Dengar-dengar sekarang ia menempuh pendidikan di ITB jurusan komunikasi. Waw, keren!! Beda dengan Bima yang memilih jadi chef.

 Entah mengapa saat aku bertemu dengan Mario tadi, jantungku berdegup kencang sama persis saat aku bertemu dengannya dulu. Padahal aku sudah mengubur perasaan itu dalam-dalam. Apakah rasa itu akan kembali lagi?

 Setelah makan siang, kami pun berangkat ke Tangkuban Perahu. Dan apa yang terjadi? Mario juga ikut serta dengan kami ke Tangkuban Perahu. Perjalanan kali ini cukup melelahkan, tapi hal itu tak membuat kami berhenti bernyanyi sepanjang perjalanan. Aku memotret pemandangan dengan apik selama perjalanan. Ya, aku sangat suka dengan fotografi. Makanya ayah memberiku sebuah kamera poket saat aku berulang tahun.

 Sesampainya disana, setelah lelah jalan-jalan dan berfoto, kami pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Tapi emang dasar aku yang nggak bisa diem, aku pun memilih jalan-jalan daripada duduk dengan mereka sambil menikmati kacang rebus. Kali ini aku hanya ditemani Mario untuk jalan-jalan dan memotret pemandangan disana.

 “Angel, apa perasaan kamu masih sama seperti dulu?” Tanya Mario tiba-tiba yang membuatku menghentikan kegiatanku saat itu.

 “Apa? perasaan apa?” tanyaku bingung.

 “Kamu masih menyukaiku seperti dulu?”

 Aku tertawa mendengar pertanyaannya. “Ah, kak Mario bisa aja. Itu kan udah berlalu lama banget, kak?”

 “Kalau gitu giliran aku dong yang bertepuk sebelah tangan.”

 “Maksudnya?”

 “Ya, sekarang aku yang suka sama kamu. Tapi kamu malah udah menganggapnya berlalu.”

 Aku terkejut begitu mendengar Mario mengatakan hal itu padaku. “Apa yang kakak bilang? Kak Mario suka sama Angel?”

 Mario mengangguk mantap dan menatap mataku dalam-dalam. “Kamu masih menyimpan perasaan itu kan? Kalau sudah kamu buang, bolehkan kalau aku mencoba untuk mengembalikan perasaan itu ke hatimu?”

 “Ah, kak Mario ini ngomong apa’an sih?

 Tiba-tiba handphoneku berdering, Bima meneleponku.

 “Apa? ayah pingsan kak? Ya, Angel segera kesana!”

 Aku pun segera bergegas menuju tempat ayah pingsan bersama Mario. setelah aku dan Bima mencoba berbagai cara untuk membangunkan ayah, tapi ayah tetap tak mau bangun. Sesekali ia membuka mata, tapi tubuhnnya sangat lemah dan kemudian memejamkan mata lagi. Kami pun berinisiatif untuk membawa ayah ke rumah sakit dengan mobil yang dikendarai oleh Mario. beruntunglah ada Mario, karena aku dan Bima nggak bisa sama sekali menyetir mobil.

 Sesampainya di rumah sakit, ayah segera dilarikan ke UGD. Hampir setengah jam aku menunggu di depan UGD dengan perasaan cemas dan khawatir. Ketika dokter keluar dari ruang UGD, aku dan Bima segera menanyakan apa yang terjadi.

 “Dok, kami anak-anaknya. Bagaimana keadaan ayah kami, dok?” Tanya Bima pada dokter tersebut.

 “Kalian tenang dulu, kita bicarakan di ruangan saya saja.”

 Kami pun menuruti perkataan dokter Lukman tersebut. Setelah berada di ruangannya, beliau mulai mengatakan hal tentang kondisi ayah.

 “Penyakit jantung ayah kalian kambuh. Untuk sementara waktu ini, ayah kalian harus dirawat di rumah sakit!”

 “Penyakit jantung?” Tanya Bima histeris.

 “Bagaimana kondisi ayah sekarang, dok?”

 “Ya, ayah kalian mempunyai riwayat penyakit jantung. Jadi jangan membuatnya terkejut dan terlalu capek. Keadaannya sekarang sudah membaik. Beliau sudah melewati masa kritis dan sudah boleh untuk dijenguk.”

 Aku dan Bima masih belum percaya dengan apa yang dibicarakan oleh dokter Lukman. Selama ini ayah nggak pernah bercerita tentang penyakitnya ini. Bagaimana bisa ketika ayah tiba-tiba sakit dan kemudian dinyatakan penyakit jantungnya kambuh? Sejak kapan ayah mengidap penyakit jantung? Kami segera bergegas masuk ke ruang rawat inap ayah. Disana sudah ada Mario yang duduk di sofa kamar tersebut.

 “Om Andre sudah siuman!” ucap Mario begitu kami datang. Sebelumnya aku telah meminta Bima untuk tidak menanyakan tentang penyakit jantung ayah kepadanya. Anggap saja kami berdua belum tahu dan membiarkan ayah untuk beristirahat.

 “Ayah, apa yang ayah rasakan sekarang? Ayah sudah membaik?” tanyaku pada ayah sambil memeluk erat tubuh ayah yang terkulai lemas.

 “Ayah baik-baik saja. dokter pasti mengatakan bahwa ayah hanya butuh istirahat saja kan? Sekarang lebih baik kalian pulang ke rumah. Beristirahatlah dulu. Ayah bisa disini sendirian, kan sudah ada suster yang merawat ayah!”

 “Tapi ayah.. “

 “Sudahlah pulang saja. Mario, antarkan mereka pulang ya? Kamu menginap di rumah dulu saja, temani Bima dan Angel.” Ucap ayah memotong pembicaraanku.

 Mario mengangguk paham dan kami kembali ke rumah.

***

 Seminggu kemudian ayah boleh pulang dari rumah sakit. Tapi aku dan Bima sudah berjanji pada dokter Lukman untuk nggak membiarkan ayah bekerja berat dan membuatnya capek. Untuk sementara ini, Bima yang mengendalikan usaha catering ayah. Beruntung juga Bima bisa diandalkan dalam hal memasak.

 “Ayah, ayah istirahat aja ya? Kalau perlu apa-apa ayah panggil Angel aja. Angel janji akan penuhi apapun keinginan ayah!” ucapku setelah membantu ayah berbaring di tempat tidur.

 “Usaha catering kita bagaimana?” Tanya ayah.

 “Tenang aja ayah. Kita serahkan pada chef Bima, mahasiswa tata boga. Hehee!”

 Ayah tersenyum menanggapi leluconku. “Angel, ayah sangat rindu pada ibu!”

 “Ayah, Angel juga. Bukan hanya ayah, Angel dan kak Bima pun sangat merindukan ibu!”

 “Bagaimana kalau ayah ingin segera bertemu ibu di surga?”

 “Ayah ngomong apa’an sih? Ya udah, Angel bantu kak Bima di dapur dulu. Sekarang ayah istirahat aja ya? Kalau butuh apa-apa panggil aja Angel dan Angel akan segera datang membantu ayah!” ucapku sambil tersenyum sebelum aku meninggalkan ayah sendirian di kamar.

 Semenjak ayah sakit, aku sering menghabiskan waktuku di rumah bersama ayah. Begitu juga Bima, ia segera pulang dari kampus setelah jam kuliahnya selesai dan mengerjakan pesanan catering. Rahmi dan Sisil sekarang juga sering datang ke rumah untuk membantu menghibur ayah.

 Setiap sore aku selalu mengajak ayah jalan-jalan ke kebun di sebelah rumah kami.

 “Ayah nggak bosan kan?” tanyaku pada ayah saat kami jalan-jalan ke kebun.

 Ayah menggeleng dan berkata, “Selama ada Angel dan kak Bima disisi ayah, ayah nggak akan pernah mati kebosanan. Melihat wajah Angel aja, ayah udah bahagia banget.”

 “Ah ayah gombal! Oh ya ayah, Angel ingin minta pendapat ayah nih!”

 “Pendapat apa sayang?” Tanya ayah sembari membelai lembut rambutku.

 “Kak Mario ngajak Angel jalan-jalan. Mau nggak ya, yah enaknya?” tanyaku.

 Ayah tertawa dan berkata, “Mau aja deh. Ayah juga pengin lihat Angel bawa pacar Angel ke depan ayah!”

 “Ah ayah mulai deh!”

 Kami pun tertawa bersama.

 Malam yang ditunggu pun tiba. Mario telah menungguku di teras dan entah mengapa kali ini aku ingin terlihat cantik di depan Mario. hatiku juga berdegup dengan kencang. Namun, sebelum berangkat aku berpamitan pada ayah yang tengah beristirahat di kamar.

 “Ayah demam?” seruku kaget begitu mencium kening ayah dan mendapatinya dalam keadaan demam.

 “Sudah berangkat sana, nggak perlu peduli’in ayah. Ayah nggak apa kok, sayang!”

 “Bagaimana ayah bisa bilang nggak kenapa-kenapa. Ayah demam sekarang!”

 “Ini Cuma demam biasa kok, Angel. Kamu nggak perlu khawatir. Nanti biar ayah suruh Bima panggil dokter.”

 “Tapi kak Bima belum datang. Kak Bima masih mengantar catering, ayah.”

 “Berangkat aja. Bukannya malam ini adalah malam yang sudah kamu tunggu-tunggu. Selama kamu percaya sama ayah, ayah akan baik-baik aja!”

 “Baiklah Angel berangkat sekarang. Kalau ada apa-apa telepon Angel ya, ayah?”

  Ayah pun mengangguk dan tersenyum. “Semoga malam ini adalah malam special untukmu, Angel!”

 Aku pun akhirnya keluar berdua dengan Mario. malam ini Mario mengajakku makan di sebuah kafe yang terletak di daerah pusat perbelanjaan Cihampelas, Hillarious Breakfast and Café. Malam ini Mario terlihat berbeda dari biasanya. Awalnya kami berdua sama-sama canggung, apalagi aku. Aku seperti salah tingkah sendiri.

 “Kamu kok salting gitu sih? Kamu naksir aku yaa? Tau aku terlihat ganteng malam ini?” celetuk Mario yang akhirnya dapat mencairkan suasana.

 “Ah, kamu bisa aja kak. Oh ya, tumben banget kakak ngajak aku makan di tempat ginian?”

 “Ehem ehem.. sebenernya aku pengin ngomong sesuatu sama kamu!”

 Aku memandang Mario heran, sedangkan dia malah memandangku penuh arti.

 “Kamu mau kan jadi pacarku? Aku suka sama kamu, Angel. Sejak aku masih ingusan sampai sekarang!”

 “Ah, gombal. Mana mungkin? Dulu ketika kak Bima mengatakan kalau aku suka sama kakak, kakak diem aja tuh!” protesku padanya.

 “Ya, saat itu emang aku diem. Karena aku masih ragu dengan perasaanku. Tapi seiring berjalannya waktu aku semakin yakin dengan perasaan ini. Aku sering bertanya tentang keadaanmu pada Bima ketika kami telepon atau bertemu. Aku juga suka nongkrong di warung depan sekolahmu untuk melihatmu dari kejauhan.”

 “Kalau gitu, kamu pengecut dong!”

 “Ya, aku memang selalu jadi pengecut ketika hal itu berkaitan denganmu. Tapi kamu mau kan menerimaku? Kamu masih menyimpan rasa untukku kan?” Tanya Mario sembari menggenggam erat tanganku.

 Dengan malu-malu, aku pun mengiyakan ajakan Mario untuk menjadi kekasihnya. Tampak dengan jelas, Mario begitu bahagia begitu aku mengatakan iya atas permintaannya. Setelah makan di Hillarious, kami berencana mampir untuk jalan-jalan ke mall. Tapi sebelumnya aku ingin menelepon Bima untuk memberitahukan bahwa aku akan pulang terlambat.

 “Yah, handphoneku lowbat!”

 “Pakai handphoneku aja, my angel!” ucap Mario sembari menyerahkan handphonenya padaku.

 “Nggak deh. Mungkin kak Bima juga akan tahu kalau aku akan pulang sedikit terlambat.”

 Kami pun melanjutkan jalan-jalan, sampai tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 09.00 malam. Saatnya pulang!!

 Sesampainya di rumah, aku melihat Rahmi dan Sisil sedang berdiri di depan pagar dengan wajah cemas.
 “Ada apa? kalian kenapa malam-malam begini ada disini?” tanyaku pada Rahmi dan Sisil begitu turun dari mobil.

 “Tadi kami ditelepon kak Bima untuk menunggumu pulang dan mengabarkan…”

 “Mengabarkan apa, Sil? Apa yang terjadi?” tanyaku tak sabar.

 “Om Andre masuk rumah sakit lagi. Tadi dia pingsan!” jawab Rahmi.

ada apa dengan ayah? apa ayah sakit lagi?? Tuhan ijinkan ayah sembuh dari penyakitnya! Angel sangat sayang pada ayah ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar