31.8.11

For Children Who Still Love Their Parents


Pas nih saat momen lebaran, saatnya sungkem dan meminta ampun atas dosa-dosa kita terhadap kedua orang tua. Ada beberapa hal yang menjadikanku sangat ingin menulis dan mempublikasikan tulisan ini. salah satunya adalah keprihatinan ku terhadap hujatan-hujatan tentang sosok orang tua di situs jejaring social, seperti Twitter dan Facebook.

Apakah pantas seorang anak menghujat kedua orang tua mereka dengan kata-kata kasar, seperti Fuck, jancuk, atau semacamnya di SITUS UMUM. Okelah jika alasan mereka karena kesal, marah, sebel, dongkol, jengkel, dan kawan-kawan. Tapi apa pantas jika mereka mengumbar kekesalan kepada semua orang? Itu sama saja membuka aib. MEMBUKA AIB KELUARGA. Bayangkan jika orang tua kita membaca hujatan-hujatan kita? Betapa miris hati mereka ketika membaca kata-kata yang begitu kasar?

Berikut ini adalah renungan tentang orang tua terhadap anak yang masih mencintai dan menyayangi mereka.

29.8.11

Happy Eid Mubarak 1432 H



I sincerely wish you Happy Idul Fitri 1432 H / 2011 M 

Mama


Tepat tanggal 28 Agustus 2011 adalah hari ulang tahun mama. Lagi, aku lupa kalau hari itu adalah hari spesial untuk mama. Sedih banget rasanya karena sempat melupakan momen penting untuk mama. Satu-satunya jalan selain aku dapat mengucapkan selamat untuk mama, dimana aku bisa mengungkapkan semua rasa sayangku kepada mama adalah lewat blog ini.

24.8.11

Peevish

sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.
        .sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.
                 .sebel.sebel.sebel.sebel.sebel.
                          .sebel.sebel.sebel.
                                   .sebel.

"Oh babe, it doesn't really matter to me. Hargailah opini orang lain dan jangan remehkan orang yang tidak mengetahui apa yang kamu ketahui. Jangan terburu untuk men-judge orang."

Aku tersinggung ck !!!!!!

Pagi di Stasiun Kota


PAGI ini, aku memang tidak berencana untuk pergi meninggalkan rumah dan ibuku yang semalam mengeluh sedang tidak enak badan. Aku juga tidak mengerti hal apa yang membuat kakiku akhirnya melangkah untuk keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kota. Yang ku ingat hanyalah mimpi bertemu dengan Peter semalam. Mimpi yang indah, namun cukup membuatku merasakan pedih yang teramat sangat. Aku kembali mengulang rasa sakit itu ketika mengingat semua hal tentang Peter.

16.8.11

Kerudung dalam Islam


Alhamdulillah, sekarang mulai menjamur kebiasaan memakai kerudung aka jilbab di kalangan remaja putri. Banyak para remaja yang mengenakan kerudung ketika mereka sedang jalan-jalan di mall ataupun saat keluar bersama teman-teman. Nah, saya akan memaparkan tentang apa itu kerudung, kewajiban seorang muslimah untuk berkerudung, dan tren dari kerudung di masa sekarang.

Check it out ! J

15.8.11

Momen Satu Empat lagi :bahagia

Momen penting buat tanggal Satu Empat ini banyak banget. 

Alhamdulillah karena Allah masih memberiku nikmat yang tak terkira.

Selain Allah membuktikan betapa solidnya aku dan teman-temanku, betapa setianya mereka terhadap persahabatan ini, Allah juga memberikanku seorang keponakan lucu lagi.



W E L C O M E
TO
My Nephew 

Buber Satu Empat :*


Buka Bersama alias Buber kayaknya jadi agenda rutin buat temen-temen Areceae sejak tahun kemaren. Tahun kemaren kami memilih Rumah Makan Pandan di daerah Kaca Piring. Tapi tahun ini semua sepakat untuk sedikit elite *budget lumayan* dengan memilih Rumah Makan di kawasan para mahasiswa nongkrong, yaitu di Wapo depan kampus B UNAIR.

11.8.11

Fiksi : Ketika Aku Merasa Kecewa

Aku merasakan kecewa yang amat sangat. Kamu memang begitu mudah memberiku harapan dan aku pun  juga terbang bersamanya. Lebih menyakitkan ketika kamu menghancurkan semua harapan itu dengan mudahnya juga. Kamu membiarkan diriku jatuh terhempas tak berdaya. Dada ini terasa sesak. Sakit. Karena tak mampu menerima kenyataan. Aku merasa kecewa denganmu dan semua harapanmu. Terima kasih karena sebelumnya telah membuatku merasa bahagia. Meskipun aku harus merasakan sakit diakhirnya.

Ketika aku memutuskan untuk membuang jauh semua anganku, aku pun siap untuk melupakanmu. Berdiri seorang diri tanpamu, tak begitu berarti untukku. 

Aku mencintaimu juga membencimu.

7.8.11

Gadis yang Tersesat

Gadis itu tengah termenung di salah satu sudut kamarnya. Pikirannya jauh melayang di luar sana. Entah apa yang dipikirkannya. Tak ada seorang pun yang mengerti jalan pikiran gadis bertubuh mungil itu, bahkan dirinya saja tidak pernah mengerti. Semua ini terlalu rumit untuk gadis seusianya.

Angin semilir yang menembus celah-celah jendela kamar begitu menusuk tulangnya. Dan ia merasakan sakit yang amat sangat di dadanya. Ia semakin erat mendekat tubuhnya sendiri, semakin lama semakin erat. Karena dingin di luar semakin mencengkeram tubuhnya.

Rintihan air hujan di luar sana jatuh bersamaan dengan air matanya. Suara petir seolah tak peduli dengan keresahannya. Kini pikirannya benar-benar tersesat di tengah kegelapan. Tak ada sedikit pun seberkas cahaya yang datang menghampirinya. Kini ia hanya bisa tertunduk pasrah, berharap akan ada orang yang akan menolongnya untuk keluar dari semua kepenatan ini.

******
(IP-Gadis yang tersesat)

Waiting for ♥ August, 14th 2011 ♥


Dadaku terasa sakit, jantungku seakan memompa lebih cepat, keringat dingin bercucuran membasahi tubuhku, dingin yang kurasa semakin lama semakin mencekam, kini aku lebih sering mendekap tubuhku yang mungil ini dalam kesendirian.


Oh, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Seperti ini kah perasaan ketika jatuh cinta? Inikah rasa yang sama seperti rasa yang pernah kualami dengan, ah sudahlah. Ada apa dengan diriku ini? Mengapa sekarang aku lebih sering mengalami hal-hal seperti ini? Mungkinkah aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?

Aku baru ingat, satu hal yang membuat dadaku terasa sakit, jantungku seakan memompa lebih cepat, keringat dingin, semua itu menjurus pada satu jawaban, tanggal satu empat agustus dua ribu sebelas. Ada apa dengan hari itu? Apa yang akan terjadi?

Ya, sebuah momen istimewa dalam hidupku. Ingin aku melukiskan semua kegembiraanku lewat tulisan ini. Namun, menulis sekarang adalah hal yang sulit bagiku. Rasanya menulis saja dadaku semakin terasa sesak dan aku kesulitan untuk bernafas. Semua itu terlalu indah untuk dibayangkan.

Satu saja harapan dan doa yang selalu kupanjatkan, semoga aku masih diberi nafas kehidupan sampai hari itu tiba. Dan aku akan tersenyum di kemudian hari bersamanya, bersamanya.

******

5.8.11

Praktikum 'fuckin' Resep

Baru kali ini aku merasakan GAGAL di Praktikum Resep. Biasanya yang aku bisa selesai 4 resep, hari ini hanya bisa menyelesaikan 2 resep. Aku nggak tahu apa yang terjadi pada diriku, hingga aku bisa melupakan satu hal dan itu bisa fatal diselanjutnya.

Awalnya semua berjalan seperti biasanya. Aku bangun sahur tepat waktu, dia juga bangunin aku, nemenin aku sahur meskipun hanya lewat sms, Mamah bikin menu favoritku pas sahur, semuanya terasa flat.

Sampai akhirnya tiba saat aku berangkat ke sekolah tepat pukul 07.00. Papah yang nyetir hari itu, terasa sangat pelan., kayak keong –“. Jalanan macet pula, hati tambah was-wasan. Gimana enggak, jam pertama adalah Praktikum Resep, sedangkan aku jam 07.30 masih on the way. Beuh, hati tambah nggak karuan begitu ingat jas labku ketinggalan. Haduh rasanya pengin nangis. Kelas berapa coba yang hari jumat ada jadwal Praktikum selain kelas sepuluh yang belum dapat jas lab?

Setelah nyampe sekolah, aku langsung berlari ke arah sekumpulan anak kelas sebelas. Beruntung ada Boyan yang lagi duduk-duduk di dekat lab resep.

“Boy, aku pinjemin jas lab dong!”

“Oh ya mbag, ada kelas sebelas c hari ini praktikum farmakognosi!”

Alhamdulillah, aku pun diantar Boyan ke kelas sebelas c. beruntung ada Dinda yang mau minjemin jas labnya buat aku. *makasih ya Dinda*, berkatmu aku tertolong hari ini.

Jas lab udah dapet, aku pun berburu masuk ke lab resep dan segera menyiapkan ini dan itu. Awalnya sih nggak curiga kalo bakalan terjadi sesuatu, hanya saja aku khawatir jas lab pinjeman ini ketahuan pembimbing dan nilaiku di minus.

Dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, “Hari ini harus selesai 4 resep meskipun Cuma 2,5 jam pelajaran!”

Aku pun memulai praktikumku dengan membuat sediaan salep untuk antiseptikum local.

R/ Sol Camphora Spirit sec FMS, ZnO, Adeps Lanae, Vaselin. Mf Ungt S u e

Cara membuat:
  • memasukkan ZnO dan sebagian Vaselin ke dalam mortir panas. Diaduk ad homogen. Keluarkan sebagai campuran 1.
  • memasukkan Camphora dalam mortir, menetesi dengan etanol 96%. Aduk ad tepat larut.
  • menambahkan Adeps Lanae ke dalam mortir, aduk ad homogen.
  • menambahkan campuran 1 dan sisa Vaselin, aduk ad homogen.


It’s so simple, but difficult pas aku numpahin salep racikanku itu. Emang sih, salepnya agak sedikit encer karena perngaruh mortir yang masih panas. Jadi kayak numpahin air deh. Lumayan tuh yang tumpah –“
Itu keapesanku yang kedua setelah jas lab.

Setelah masalah salep, sekarang resep kedua aku memilih membuat bedak untuk antiseptikum local juga.

R/ Adeps Lanae, Aqua, Vaselin Album, Bolus Alba, ZnO, Talc, Oleum Rosae. Mf pulv adsp. S bedak

Cara membuat :
  • memasukkan Adeps Lana eke dalam mortir + air beberapa tetes aduk ad homogen + etanol 96% ad encer.
  • menambahkan Talc aduk ad kering dan homogeny, keluarkan sebagai campuran 1.
  • memasukkan vaselin ke dalam mortir + etanol 96% aduk ad encer.
  • menambahkan Talc, aduk ad kering.
  • menambah campuran 1 + Bolus Alba + ZnO sedikit demi sedikit + sisa Talc, aduk ad homogen.
  • mengayak serbuk dengan ayakan no 44.
  • memasukkan hasil ayakan ke dalam mortir, kemudian diaduk ad homogen.
  • menimbang bedak sebanyak 23 gram, kemudian masukkan mortir. Sisa bedak di timbang dan dibungkus.
  • menambahkan Oleum Rosae diaduk ad homogen.


Nah ini emang aku akui agak rumit. Eh, bukan hanya ‘agak’, tapi emang rumit. Aku mengerjakan resep ini hampir 40 menit sendiri. Setelah menyelesaikan resep kedua ini, aku menyerahkan jurnal + sediaanku kepada pembimbingku. Saat itu masih tersisa waktu 7 menit untuk melanjutkan resep selanjutnya sebelum waktu habis.

Tapi, tiba-tiba pembimbingku memanggil namaku. Kemudian bertanya kepadaku ketika aku sudah berada di hadapan beliau,

“Kamu beneran Ira Puspita?” Tanya pembimbingku dengan nada sinis.

“Iya buk!”

“Kok jas labmu namanya Dinda?”

“Iya buk, ketinggalan. Maaf!”

“Besok harus pake jas labnya sendiri!”

Aku kira masalah berhenti sampai disitu, ternyata masih diungkit-ungkit lagi dan bahkan si pembimbing malah mengadu kepada wali kelasku yang kebetulan juga berada di sana. Masalah jas lab, aku pikir sudah beres, aku hanya ingin berkonsentrasi pada resep ketiga ku sebelum waktu habis.

Eh ternyata, kedua jurnal ku tadi nggak sempat aku tulis waktu mengerjakannya. Subhanallah, itu fatal –“ aku sempat ingin menangis saat aku mencuci peralatan yang telah kupakai. Saat itu semangatku untuk ngebut membuat resep ketiga pupus sudah.

Aku pun jalan dengan terseok mengembalikan peralatan praktikum, dan Klontang… *anggap aja berbunyi seperti itu*, kesialanku selanjutnya adalah aku menjatuhkan tumpukan gelas untuk batu tara yang menjulang tinggi yang diletakkan di rak.

Ya Allah, aku malu, aku kesel, aku apes, aku sial banget!!

Salah satu pembimbing menyeletuk, “Nggak usah marah toh mbag!”

Aku hanya tersenyum simpul. Aku nggak menjawab karena emang aku sedang marah, aku kesal.

Setelah selesai mengembalikan semua peralatan, dan beres-beres.. aku keluar dari lab resep tanpa pamit dan toleh kanan toleh kiri.

Sumpah aku kesel banget dengan praktikumku pertama ini –“