PAGI ini, aku memang tidak berencana untuk pergi meninggalkan rumah dan ibuku yang semalam mengeluh sedang tidak enak badan. Aku juga tidak mengerti hal apa yang membuat kakiku akhirnya melangkah untuk keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kota. Yang ku ingat hanyalah mimpi bertemu dengan Peter semalam. Mimpi yang indah, namun cukup membuatku merasakan pedih yang teramat sangat. Aku kembali mengulang rasa sakit itu ketika mengingat semua hal tentang Peter.
Tepat 10 menit setelah aku melangkahkan kakiku keluar rumah, aku telah sampai di stasiun kota. Pagi ini stasiun kota lumayan padat. Banyak sekali para pekerja dan anak sekolahan yang sedang mengantri menunggu kereta mereka di ruang tunggu. Aku hampir tidak menemukan tempat duduk disana. Hingga seseorang di belakangku, memanggilku dan menyuruhku untuk duduk disebelahnya.
Dia seorang wanita, sangat cantik dan lembut. Pakaiannya yang modis serta anggun, membuat wanita ini lebih mirip dengan Kate Middleton. Aku sempat tertegun dan kagum melihat senyuman dan gaya berbicara wanita ini. sungguh wanita yang sangat menarik.
“Kau akan pergi kemana?” Tanya wanita itu setelah ia memperkenalkan namanya, Rachel.
“Aku .. ..” aku sempat bingung ingin mengatakan apa. karena aku sama sekali tidak mempunyai tujuan. Aku tidak memegang tiket dan aku tidak berencana untuk pergi kemana pun. Aku hanya ingin duduk santai di stasiun dan mengenang apa yang pernah terjadi disini, lebih tepatnya semua memori indahku bersama Peter.
“Aku akan pergi ke SunCity mall. Aku ingin berbelanja disana.” Jawabku sekenanya.
Rachel tersenyum kepadaku, kemudian matanya kembali menerawang ke langit di celah-celah atap stasiun tersebut. “Kau tidak ingin bertanya akan kemanakah diriku?” Tanya Rachel.
“Hha? Ya, memang kau akan pergi kemana? Ke kantor?”
“Tidak.” Ia menggeleng sambil tersenyum. “Hari ini aku sedang mengambil cuti. Aku hanya ingin duduk santai disini sambil mengenang apa yang pernah terjadi disini.”
“Benarkah?” tanyaku terkejut. Tahu begitu aku menjawab apa adanya saja pada Rachel.
“Kau tidak ingin mendengar ceritaku? Aku ingin berbagi cerita tetapi entah dengan siapa. Mungkin kau mau mendengarkan ceritaku?” tanyanya dan lagi-lagi membuatku terkejut. Aku belum sempat menjawab, tapi ia sudah terburu untuk mulai bercerita.
“Jika aku berada di stasiun ini, aku jadi ingat dengan seseorang. Dia adalah pahlawanku. Dia.. laki-laki yang amat aku kagumi serta aku segani berkat kebaikan hatinya.”
“Siapa? Apa dia kekasihmu?” tanyaku.
Rachel menarik nafas sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya. “Dia mantan kekasihku. Aku mengenalnya setelah ia berhasil menyelamatkanku dari ajang bunuh diriku di stasiun ini. Dia yang menyelamatkan nyawaku saat itu.”
“Apa aku bisa menyimpulkan bahwa kau jatuh cinta pada pandangan pertama?” tanyaku lagi.
Rachel mengangguk. “Aku langsung jatuh cinta setelah tahu caranya menyelamatkanku dan merawat luka dalamku ini sampai sembuh. Saat itu aku sedang hamil di luar nikah. Dan aku mencoba untuk bunuh diri dengan memberikan tubuhku ini pada kereta yang akan lewat. Tetapi dengan sigap ia menolongku dan berhasil menyembuhkan luka pedih yang kurasa akibat anak yang tak kuinginkan ini. pria yang menghamiliku pergi entah kemana dan itu yang membuatku sangat frustasi. Aku khawatir anak ini lahir tanpa ayah. Aku juga takut dengan semua omongan orang tentang kehamilan ini. tapi dengan keikhlasan hati serta kesungguhannya, dia mau bertanggung jawab atas anak ini dengan cara menikahiku. Meskipun aku tahu bukan dia yang sudah menghamiliku. Dia berani mengaku kepada kedua orang tuaku dan orang tuanya bahwa dia telah menghamiliku. Sejak itu kami menikah dan hidup bahagia di kota ini. meskipun kedua orang tua kami sangat membenci kami. Dan mungkin kekasih yang ditinggalkannya setelah menikahiku akan amat membenci diriku dan dirinya. Aku takut kekasihnya akan marah padaku.”
Rachel menitikkan air mata. Lalu aku menggenggam tangannya. “Aku yakin kekasihnya akan mengerti keadaanmu jika kau menceritakan apa yang benar-benar terjadi. Jika aku menjadi kekasih suamimu, aku akan menerima dengan ikhlas kalau tahu cerita yang sesungguhnya. Meskipun pada awalnya aku akan marah pada keadaan.”
“Benarkah?” Tanya Rachel sembari menyeka air matanya.
“Ya, mungkin bisa dibilang sekarang aku ada dalam posisi kekasih suamimu.”
“Mengapa bisa begitu? Apa kau ..”
“Ya, aku ditinggal pergi oleh kekasihku. Kami sudah berpacaran cukup lama, sejak kami menginjak bangku SMA. Mungkin sekitar 9 tahun kami menjadi pasangan kekasih. Dan stasiun ini menjadi saksi bisu kebahagiaan kami. Kami sering menghabiskan waktu kami disini. Mulai pagi saat berangkat ke sekolah maupun ke kampus dan sore hari setelah melakukan semua agenda rutin kami setiap hari. Kami selalu naik kereta yang sama, jurusan yang sama, dan berada di stasiun yang sama. Hingga kami akhirnya memutuskan untuk menikah. Kami juga sudah memesan tempat pesta pernikahan, gaun pengantin, dan kami sudah menyiapkan foto prewedding kami. Tapi itu semua langsung hancur, ketika kekasihku itu tiba-tiba pergi dan menghilang. Kabar terakhir yang aku terima, dia sudah menikah dengan wanita lain.”
“Kalau aku menjadi seorang wanita yang dinikahi oleh kekasihmu, aku akan meminta maaf yang amat sangat besar kepadamu. Bukan aku ataupun kekasihmu yang menginginkan hal ini terjadi, tapi keadaanlah yang membuat kekasihmu akhirnya mau menikahiku.” Ucap Rachel yang membuatku heran dan merasakan sesuatu yang aneh.
“Kekasihmu amat sangat mencintaimu. Meskipun dia sudah menikahiku, tapi cintanya hanya untukmu. Dia menikahiku karena anakku, bukan karena cintanya kepadaku. Setelah dia menikahiku, dia sama sekali tidak pernah menyentuhku. Sama sekali.”
“A-a-apa kamu …”
“Bukan.. itu hanya seumpama saja. seumpama kau adalah kekasih suamiku, aku akan mengucapkan hal itu. Bagaimana menurutmu?” Tanya Rachel.
“Itu sudah cukup bagus, dan cukup menenangkan kekasih suamimu.” Jawabku dan akhirnya aku merasa lega bahwa Rachel bukanlah istri dari Peter, kekasihku.
“Aku harus pergi, karena aku akan menjemput anakku siang ini di sekolahnya. Ini kartu namaku dan ini alamat lokasi pemakaman suamiku. Aku harap kau mau datang untuk berziarah.” Ucap Rachel sebelum akhirnya pergi meninggalkanku sendiri di bangku stasiun sembari memegang dua buah kertas berukuran kecil.
Aku sangat terkejut, setelah membaca isi dari kedua kertas tersebut. Aku tak kuasa menahan tangis, dan seluruh bulu kudukku langsung berdiri.
Ternyata Rachel Angeline adalah istri Peter, kekasihku. Dan yang lebih mengejutkan lagi yang aku temukan dari sebuah berita di surat kabar yang sengaja ditinggalkan Rachel tadi, bahwa Peter dan Rachel tewas dalam kecelakaan maut sehari setelah acara pernikahannya.
Setelah aku dibuat cukup terkejut akan kematian Peter serta kebenaran bahwa Rachel adalah penyebab mengapa Peter pergi meninggalkanku dan rela membatalkan acara pernikahan kami, aku pun semakin terkejut setelah ku tanyakan pada seseorang yang duduk di bangku yang tidak begitu jauh dari bangku ku bersama Rachel tadi. Ia mengatakan bahwa tadi aku hanya duduk seorang diri disana, tidak dengan seorang pun.
Ya, aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, alasan mengapa Peter pergi meninggalkanku demi wanita lain. mulai saat ini aku akan memaafkan segala kesalahan Peter termasuk kekesalanku akan pembatalan pernikahanku dengannya, aku baru sadar bahwa Peter tidak bersalah. Dan aku akan meminta maaf pada arwah Rachel bahwa aku telah menuduhnya yang bukan-bukan sebelum aku tahu bahwa dia adalah istri Peter.
Sepulang dari stasiun kota, aku segera bergegas ke lokasi pemakaman Rachel dan Peter.
Semoga kalian berdua berada di sisi Tuhan dan kalian bahagia ketika berada di Surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar