Melihat
awan menggelanyut dengan mesra di langit, membuatku enggan untuk keluar rumah
sore ini. Apalagi ditambahnya dingin udara yang mencekam, ah aku semakin
memeluk erat selimut ini. Ingin rasanya aku tidur, tidur, dan segera menjalani
hari esok.
Aku
melirik sekilas ke arah kalender mungil yang terletak di meja saat aku
berbaring. Sejenak aku heran karena di tanggal 18 Mei terdapat lingkaran besar
berwarna merah. Setelah aku berfikir dan mengingat-ingat momen apakah yang
terjadi di tanggal 18, aku pun segera terperanjat.
“Oh
God, besok adalah anniversary ku dengan Petra!” seruku heboh sembari
menyibakkan selimutku dengan semangat.
Kini
aku tidak lagi peduli dengan dinginnya cuaca sore ini. Dan aku tidak peduli dengan
angin-angin yang mencoba untuk merembes masuk untuk menusuk tulang-tulangku.
Semua itu kutepis dengan rasa bahagia menyambut Anniversary ku dengan Petra
yang ke-5.
Tak
lama kemudian, ponselku berdering. Petra meneleponku.
“Sayang!!”
seruku basa-basi setelah menekan tombol ‘jawab’ di ponselku.
“Ih,
ada apa sih? Kok keliatannya seneng banget? Emang besok aku mau dapet
kebahagiaan apa, sayang?” Tanya Petra dengan nada polosnya minta ampun.
Jedieeenk!!
Kok dia malah Tanya ke aku? Apa dia lupa kalau besok adalah momen spesial
diantara kami berdua?
“Kok
nggak dijawab?” Tanya Petra lagi sesaat setelah aku berdiam cukup lama.
“Nggak
kok. Ya udah aku mau bantu-bantu mama. Aku sibuk!” ucapku sebelum aku
memutuskan sambungan telepon dengan rasa sebel, kesel, jengkel, semua jadi
satu.
Kok
bisa-bisanya Petra sama sekali tidak mengerti apa yang aku maksud? Tahun
kemarin, saat anniversary ke-4 begitu aku memberitahunya dia langsung
mengajakku makan malam. Dia langsung memesan tempat di sebuah kafe elite di
kawasan Surabaya Utara. Kenapa sekarang dia jadi telmi seperti ini? Ah,
langsung badmood deh –“
Tidak
lama setelah aku mematikan telepon dan setelah ngedumel sendirian, Petra
mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku.
Kenapa? Ada yang salah? Kamu minta kita
nge-date besok?
Begitulah
kira-kira isi smsnya yang semakin membuat hatiku panas karena dia masih saja
belum mengerti maksudku tadi.
Iya. Besok aku mau kita nge-date paling
spesial diantara acara nge-date kita biasanya. Aku mau kita candle light dinner
di puncak gedung. Titik. | Ah,
kamu ada-ada aja. Kok kamu jadi kecanduan sinetron gini sih? Pake candle light
dinner di puncak gedung segala? Hahaa :’D besok aku ada acara kampus sampai
malam. Maaf aku nggak bisa penuhi keinginanmu sayang.
Huaa,
tambah bête deh dia bilang seperti itu. ‘Maaf aku nggak bisa penuhi
keinginanmu, sayang’. Sumpah aku pengin menemuinya dan memukulnya dengan
cintaku. Lho?
Aku
pun mencoba cuek dengan smsnya. Kemudian tidak lama, Petra datang dengan smsnya
yang membuat moodku jadi sedikit membaik.
I love you, Stephanie.
Ah,
kata-kata simple yang mampu membuatku melayang kemana-mana. Rasanya semua rasa
jengkel ini hilang setelah aku mendengar kata-kata tersebut darinya. Huh,
seperti ingin menarik awan tebal yang menggelanyut di luar. Ingin rasanya aku
menumpahkan kebahagiaanku lewat rintikan hujan yang membuat semua orang merasa
sejuk karena hadirnya.
Aku
pun meminta Petra untuk meneleponku nanti malam, setelah agenda ngampusnya
selesai. Ya, kira-kira pukul 9 malam ia baru bisa menghubungiku. Sepertinya ini
sudah menjadi aksi rutin ketika aku jengkel dengannya. Saat aku marah dan
ngambek, ia selalu mengirimkan pesan singkat, ‘I love you, Stephanie’. Dengan
begitu mood ku kembali membaik. Kemudian aku akan memintanya untuk meneleponku
setelah ia menyelesaikan semua aktivitasnya.
Tapi
saat Petra mulai marah kepadaku, aku hanya bisa diam. Saat aku hendak meminta
maaf, ia sudah memaafkanku terlebih dahulu dengan mengucapkan kata-kata yang
sama, “Kamu yang benar. Aku yang salah. Lain kali jangan seperti ini. aku
sayang kamu!”
Ah,
siapa sih cewek yang tidak tahan dengan kalimat lembutnya? Padahal saat itu
posisi kita yang salah. Dan dia dengan keikhlasan hatinya mengalah dan mengakui
bahwa dirinya lah yang sebenarnya salah.
Tuhan,
dalam keadaan apapun aku akan mempertahankan Petra sampai ujung nafasku. Dia
adalah pria yang sempurna yang engkau kirimkan kepadaku.
Malam
semakin larut. Mataku rasanya seperti tidak tahan lagi dan ingin segera
terpejam. Tubuh ini menggigil kedinginan karena hujan yang tidak berhenti sejak
pukul 6 sore tadi. Setelah makan malam dengan mama dan papa, aku kembali lagi
ke kamar dan duduk termenung di salah satu sudutnya. Lagi-lagi aku duduk
tersungkur sembari memperhatikan ponselku tanpa pernah lelah. Sesekali aku
memainkan keypadnya dengan kuku yang ku hias dengan cat kuku berwarna orange.
Sudah
diduga, aku sedang menanti Petra yang berjanji akan meneleponku. Meskipun aku
tahu, masih ada 2 jam lagi untuk menunggunya. Namun aku sudah terlanjur senang
dan akan menanti telepon dari Petra.
Jarum
jam sudah menunjukkan angka 9 lebih 15 menit. Tapi ponselku sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda kehadiran Petra. Ntah lewat telepon ataupun sms. Oh
Tuhan, mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang. Ya, aku mencoba untuk
berpikir positif terlebih dahulu. Aku tidak mau mengada-ada hingga akhirnya
nanti akan menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil. Aku tidak mau berdebat
dengannya di saat anniversary kami.
Kini
mataku sudah sangat lelah. Aku pun menyerah dengan keadaan. Aku sempat melirik
jam sebelum akhirnya aku terlelap, pukul 1 lewat 20 menit.
KEESOKAN
harinya, aku terbangun dengan keadaan kepayahan. Badanku terasa pegal semua,
karena semalam aku tertidur di atas lantai. Dan kepalaku terasa berat. Mungkin
aku akan terserang flu karena tidur di lantai semalam suntuk.
Aku
segera meraih ponselku ketika mengingat Petra. Dan apa yang ku dapat? Tidak ada
sama sekali sms dan telepon dari Petra. Kecewa, itu lah gambaran perasaanku
pagi ini. Rasanya aku ingin menangis, karena Petra tidak lagi menepati
janjinya. Selain itu aku sangat kecewa karena tidak jadi mendengar suara Petra
tadi malam. Aku marah dan aku kesal.
Aku
pun mengirim sebuah pesan singkat kepada Petra untuk meluapkan semua amarahku
pagi ini.
Kemana saja kamu semalam? Kamu lupa?
Atau pura-pura lupa? Telepon aku setelah kamu baca sms ini.
Tak
lama setelah sms ini terkirim, Petra meneleponku.
“Maafkan
aku. Semalam aku benar-benar kelelahan. Kegiatan kampus benar-benar menyita waktuku. Belum lagi aku
kehujanan pas perjalanan pulang. Aku mau kamu mengerti!” ucap Petra begitu aku
menjawab teleponnya.
“Kamu
mau aku mengerti kamu? Kamu tahu, demi menunggu teleponmu aku nggak tidur
sampai jam 1!” hardikku.
Petra
terdiam sejenak. “Sudah? Aku benar-benar lelah. Aku ingin tidur. Dan aku nggak
mau denger omelan kamu pagi ini. kamu membuat pagiku begitu suram. Kita
bicarakan nanti!” seru Petra kemudian memutuskan sambungan telepon.
Apa?
Aku adalah orang yang membuat paginya menjadi suram? Dia membiarkan aku marah?
Dan dia yang mematikan teleponnya terlebih dahulu?
Kali
ini aku merasa benar. Tapi mengapa dia bersikap seperti itu? Aku yang harusnya
marah kepadanya. Dan dia adalah orang yang membuat hatiku merasa suntuk pagi
ini. Kenapa dia balik menyalahkanku.
Maksudmu apa mematikan telepon begitu
aja? Aku kecewa karena kamu membuatku menunggu semalaman dan aku kecewa karena
kamu mengatakan bahwa aku adalah orang yang membuat pagimu menjadi suram. Kamu
tahu hari ini hari apa? kamu ingat tanggal berapa sekarang?
Aku
mengetik sms panjang lebar kepada Petra. Mungkin saatnya aku langsung to the
point kepadanya.
Aku sedang tidur. Don’t disturb me!!!!
Begitulah
balasan sms dari Petra. Setelah aku mengetik sms panjang lebar, namun
balasannya hanya ini? ‘don’t disturb me?’ okey, aku tidak akan mengganggunya.
Aku
pun menon-aktifkan ponselku dan ku banting di atas tempat tidurku. Tak terasa
air mata ini telah mengalir membasahi pipiku. Aku begitu kecewa dengan sikapnya
hari ini. Aku benar-benar tidak menyangka kata-kata itu keluar dari Petra,
kekasih yang selalu sabar dan telaten dalam menghadapiku.
Hari
ini aku tidak berencana kemanapun, selain berdiam diri di kamar dan menangis.
Bahkan aku saja sampai tidak berani untuk bertatap muka dengan mama dan papa
saat sarapan. Mereka memang sempat bertanya kepadaku tentang mataku yang
sembab.
“Aku
nggak apa-apa kok, ma, pa!” jawabku sembari nyengir lebar, meskipun dengan
terpaksa.
Setelah
sarapan dan membantu mama di dapur sebentar, aku pun kembali ke kamar. Tuhan,
cobaan apa yang engkau berikan disaat hari bahagia ini?
Pagi,
siang, dan sore. Petra sama sekali tidak berusaha menghubungiku. Telepon di
rumah kek, datang ke rumah kek, apapun itu yang biasa ia lakukan saat kami
marahan tapi kali ini ia tidak lakukan.
Miris
banget hati ini ketika ingat kejadian tadi pagi.
Jarum
jam telah menunjukkan pukul 5 lewat 2 menit. Matahari telah menghilang dan
meninggalkan sisa-sisa sinarnya di ufuk barat. Kali ini masih belum ada kabar
dari Petra termasuk tanda-tanda kehadirannya di rumah.
Aku
duduk di ruang tengah sore ini sembari melihat Spongebob Squarepants yang
ditayangkan di televisi bersama mama.
“Kamu
nggak keluar sama Petra?” Tanya mama tiba-tiba saat kami tengah asik tertawa
dengan tingkah konyol Spongebob dan Patrick.
“Nggak
ma. Males aja!” jawabku singkat. Dan aku kembali badmood.
“Lho
hari ini kan hari jadian kalian? Kenapa nggak keluar jalan-jalan?” Tanya mama
lagi. kali ini pertanyaannya membuatku sedikit terkejut. Bahkan mama ingat
dengan anniversary ku dengan Petra. Tapi kenapa Petra sendiri bisa lupa?
Aku
hanya tersenyum kecut. Kemudian pamit untuk kembali ke kamar. Kumat deh badmood
ku. Di kamar, aku mencoba mencari ponselku yang tadi pagi ku lempar ke tempat
tidur. Aku pun mengaktifkan ponselku, barangkali Petra telah mencoba untuk
menghubungiku.
One
message received
Steph, aku tunggu di Taman jam 12 siang
ini. aku bakalan tunggu sampai kamu dateng. Petra
Tak
lama kemudian, masuk sms yang sama beberapa kali sampai sms ke 27. Dan ia juga
telah berusaha menghubungiku sebanyak 56 kali panggilan.
God,
jam 12? Apa itu artinya dia telah menungguku sejak siang tadi? Aku pun segera
mengambil jaketku dan bergegas menuju Taman.
“Mungkin
dia sudah menyerah. Karena tadi sore sempat hujan. Dia pasti sudah pulang!”
gumamku saat perjalanan menuju taman.
Sesampainya
disana, tak disangka Petra masih duduk di salah satu bangku yang disediakan
disana. Ia duduk sembari mendekap tubuhnya. Tuhan, dia nampak kelelahan karena
menungguku. Aku pun berjalan menghampirinya. Dan dia perlahan mendongak ke
arahku begitu ia menyadari kehadiranku.
“Petra?
Kamu..”
Petra
bangkit dari duduknya dan menggenggam tanganku erat. “Jangan katakan apapun.
Kali ini aku ingin minta maaf padamu, Happy Anniversary sayang!”
“Petra?”
tanyaku tidak percaya ia mengucapkan happy anniversary kepadaku.
“Maafkan
aku karena semalam aku memang sengaja melupakanmu. Aku ingin membuatmu kesal.
Dan maaf juga untuk tadi pagi karena aku tidak benar-benar marah dan bermaksud
lain kepadamu. Itu hanya skenario kecil yang aku buat sebagai hadiah
anniversary kita.”
“Petra?
Kau benar-benar sukses membuatku membencimu!” ucapku sembari tersenyum manis
kepada Petra.
“Kali
ini maafkan aku karena aku tidak sanggup memenuhi permintaanmu untuk candle
light dinner di puncak gedung.”
Aku
terkekeh pelan. “Aku hanya bercanda denganmu. Itu karena aku terlalu kesal
terhadapmu yang cuek denganku!”
Petra
semakin menggenggam tanganku erat. “Yakinlah hatiku dan sayangku hanya untukmu.
Akan kuberikan semuanya kepadamu. Dan aku sangat menyayangimu!”
“Lalu
apa kamu tidak menyayangi keluargamu jika kamu memberikan semua perasaan
sayangmu kepadaku?” tanyaku.
“Aku
hanya sedikit memberikan sentuhan gombal kepadamu!” jawab Petra dengan nada
sedikit menggoda.
“Aku
mencintaimu!” ujar Petra lagi dan kemudian bibir ini basah. Semakin dalam
semakin hangat. Dan aku merasakan kenyamanan ketika bibir ini bersentuhan.
Sebuah kecupan manis dari Petra sebagai hadiah Anniversary kami yang ke-5.
Aku
sangat sangat terkejut dengan caranya memperingati anniversary ke-5 ini. Dan
lebih terkejut lagi dengan kecupan manis datang sebagai hadiahnya. Ciuman yang
sempurna : )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar