10.9.11

I'M SPEECHLESS


Melihat awan menggelanyut dengan mesra di langit, membuatku enggan untuk keluar rumah sore ini. Apalagi ditambahnya dingin udara yang mencekam, ah aku semakin memeluk erat selimut ini. Ingin rasanya aku tidur, tidur, dan segera menjalani hari esok.

Aku melirik sekilas ke arah kalender mungil yang terletak di meja saat aku berbaring. Sejenak aku heran karena di tanggal 18 Mei terdapat lingkaran besar berwarna merah. Setelah aku berfikir dan mengingat-ingat momen apakah yang terjadi di tanggal 18, aku pun segera terperanjat.

“Oh God, besok adalah anniversary ku dengan Petra!” seruku heboh sembari menyibakkan selimutku dengan semangat.


Kini aku tidak lagi peduli dengan dinginnya cuaca sore ini. Dan aku tidak peduli dengan angin-angin yang mencoba untuk merembes masuk untuk menusuk tulang-tulangku. Semua itu kutepis dengan rasa bahagia menyambut Anniversary ku dengan Petra yang ke-5.

Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan meraih ponselku yang kuletakkan di atas meja belajar. Jariku mulai menari indah di atas keypad dan ku kirim sebuah pesan singkat kepada Petra.

Ihii.. besok ada yang mau bagi-bagi kebahagiaan nih? Bagi-bagi ke aku dong :3

Terkirim! Yess, aku pun loncat-loncat di atas tempat tidur. Aku kini sedang membayangkan diriku akan mendapatkan sebuah kejutan istimewa dari pacarku sendiri. Ah, rasanya aku ingin waktu segera berlalu dan esok akan segera datang.

Tak lama kemudian, ponselku berdering. Petra meneleponku.

“Sayang!!” seruku basa-basi setelah menekan tombol ‘jawab’ di ponselku.

“Ih, ada apa sih? Kok keliatannya seneng banget? Emang besok aku mau dapet kebahagiaan apa, sayang?” Tanya Petra dengan nada polosnya minta ampun.

Jedieeenk!! Kok dia malah Tanya ke aku? Apa dia lupa kalau besok adalah momen spesial diantara kami berdua?

“Kok nggak dijawab?” Tanya Petra lagi sesaat setelah aku berdiam cukup lama.

“Nggak kok. Ya udah aku mau bantu-bantu mama. Aku sibuk!” ucapku sebelum aku memutuskan sambungan telepon dengan rasa sebel, kesel, jengkel, semua jadi satu.

Kok bisa-bisanya Petra sama sekali tidak mengerti apa yang aku maksud? Tahun kemarin, saat anniversary ke-4 begitu aku memberitahunya dia langsung mengajakku makan malam. Dia langsung memesan tempat di sebuah kafe elite di kawasan Surabaya Utara. Kenapa sekarang dia jadi telmi seperti ini? Ah, langsung badmood deh –“
Tidak lama setelah aku mematikan telepon dan setelah ngedumel sendirian, Petra mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku.

Kenapa? Ada yang salah? Kamu minta kita nge-date besok?

Begitulah kira-kira isi smsnya yang semakin membuat hatiku panas karena dia masih saja belum mengerti maksudku tadi.

Iya. Besok aku mau kita nge-date paling spesial diantara acara nge-date kita biasanya. Aku mau kita candle light dinner di puncak gedung. Titik. | Ah, kamu ada-ada aja. Kok kamu jadi kecanduan sinetron gini sih? Pake candle light dinner di puncak gedung segala? Hahaa :’D besok aku ada acara kampus sampai malam. Maaf aku nggak bisa penuhi keinginanmu sayang.

Huaa, tambah bête deh dia bilang seperti itu. ‘Maaf aku nggak bisa penuhi keinginanmu, sayang’. Sumpah aku pengin menemuinya dan memukulnya dengan cintaku. Lho?

Aku pun mencoba cuek dengan smsnya. Kemudian tidak lama, Petra datang dengan smsnya yang membuat moodku jadi sedikit membaik.

I love you, Stephanie.

Ah, kata-kata simple yang mampu membuatku melayang kemana-mana. Rasanya semua rasa jengkel ini hilang setelah aku mendengar kata-kata tersebut darinya. Huh, seperti ingin menarik awan tebal yang menggelanyut di luar. Ingin rasanya aku menumpahkan kebahagiaanku lewat rintikan hujan yang membuat semua orang merasa sejuk karena hadirnya.

Aku pun meminta Petra untuk meneleponku nanti malam, setelah agenda ngampusnya selesai. Ya, kira-kira pukul 9 malam ia baru bisa menghubungiku. Sepertinya ini sudah menjadi aksi rutin ketika aku jengkel dengannya. Saat aku marah dan ngambek, ia selalu mengirimkan pesan singkat, ‘I love you, Stephanie’. Dengan begitu mood ku kembali membaik. Kemudian aku akan memintanya untuk meneleponku setelah ia menyelesaikan semua aktivitasnya.

Tapi saat Petra mulai marah kepadaku, aku hanya bisa diam. Saat aku hendak meminta maaf, ia sudah memaafkanku terlebih dahulu dengan mengucapkan kata-kata yang sama, “Kamu yang benar. Aku yang salah. Lain kali jangan seperti ini. aku sayang kamu!”

Ah, siapa sih cewek yang tidak tahan dengan kalimat lembutnya? Padahal saat itu posisi kita yang salah. Dan dia dengan keikhlasan hatinya mengalah dan mengakui bahwa dirinya lah yang sebenarnya salah.
Tuhan, dalam keadaan apapun aku akan mempertahankan Petra sampai ujung nafasku. Dia adalah pria yang sempurna yang engkau kirimkan kepadaku.

Malam semakin larut. Mataku rasanya seperti tidak tahan lagi dan ingin segera terpejam. Tubuh ini menggigil kedinginan karena hujan yang tidak berhenti sejak pukul 6 sore tadi. Setelah makan malam dengan mama dan papa, aku kembali lagi ke kamar dan duduk termenung di salah satu sudutnya. Lagi-lagi aku duduk tersungkur sembari memperhatikan ponselku tanpa pernah lelah. Sesekali aku memainkan keypadnya dengan kuku yang ku hias dengan cat kuku berwarna orange.

Sudah diduga, aku sedang menanti Petra yang berjanji akan meneleponku. Meskipun aku tahu, masih ada 2 jam lagi untuk menunggunya. Namun aku sudah terlanjur senang dan akan menanti telepon dari Petra.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 9 lebih 15 menit. Tapi ponselku sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran Petra. Ntah lewat telepon ataupun sms. Oh Tuhan, mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang. Ya, aku mencoba untuk berpikir positif terlebih dahulu. Aku tidak mau mengada-ada hingga akhirnya nanti akan menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil. Aku tidak mau berdebat dengannya di saat anniversary kami.
Kini mataku sudah sangat lelah. Aku pun menyerah dengan keadaan. Aku sempat melirik jam sebelum akhirnya aku terlelap, pukul 1 lewat 20 menit.

KEESOKAN harinya, aku terbangun dengan keadaan kepayahan. Badanku terasa pegal semua, karena semalam aku tertidur di atas lantai. Dan kepalaku terasa berat. Mungkin aku akan terserang flu karena tidur di lantai semalam suntuk.

Aku segera meraih ponselku ketika mengingat Petra. Dan apa yang ku dapat? Tidak ada sama sekali sms dan telepon dari Petra. Kecewa, itu lah gambaran perasaanku pagi ini. Rasanya aku ingin menangis, karena Petra tidak lagi menepati janjinya. Selain itu aku sangat kecewa karena tidak jadi mendengar suara Petra tadi malam. Aku marah dan aku kesal.

Aku pun mengirim sebuah pesan singkat kepada Petra untuk meluapkan semua amarahku pagi ini.

Kemana saja kamu semalam? Kamu lupa? Atau pura-pura lupa? Telepon aku setelah kamu baca sms ini.

Tak lama setelah sms ini terkirim, Petra meneleponku.

“Maafkan aku. Semalam aku benar-benar kelelahan. Kegiatan kampus  benar-benar menyita waktuku. Belum lagi aku kehujanan pas perjalanan pulang. Aku mau kamu mengerti!” ucap Petra begitu aku menjawab teleponnya.

“Kamu mau aku mengerti kamu? Kamu tahu, demi menunggu teleponmu aku nggak tidur sampai jam 1!” hardikku.

Petra terdiam sejenak. “Sudah? Aku benar-benar lelah. Aku ingin tidur. Dan aku nggak mau denger omelan kamu pagi ini. kamu membuat pagiku begitu suram. Kita bicarakan nanti!” seru Petra kemudian memutuskan sambungan telepon.

Apa? Aku adalah orang yang membuat paginya menjadi suram? Dia membiarkan aku marah? Dan dia yang mematikan teleponnya terlebih dahulu?

Kali ini aku merasa benar. Tapi mengapa dia bersikap seperti itu? Aku yang harusnya marah kepadanya. Dan dia adalah orang yang membuat hatiku merasa suntuk pagi ini. Kenapa dia balik menyalahkanku.

Maksudmu apa mematikan telepon begitu aja? Aku kecewa karena kamu membuatku menunggu semalaman dan aku kecewa karena kamu mengatakan bahwa aku adalah orang yang membuat pagimu menjadi suram. Kamu tahu hari ini hari apa? kamu ingat tanggal berapa sekarang?

Aku mengetik sms panjang lebar kepada Petra. Mungkin saatnya aku langsung to the point kepadanya.

Aku sedang tidur. Don’t disturb me!!!!

Begitulah balasan sms dari Petra. Setelah aku mengetik sms panjang lebar, namun balasannya hanya ini? ‘don’t disturb me?’ okey, aku tidak akan mengganggunya.

Aku pun menon-aktifkan ponselku dan ku banting di atas tempat tidurku. Tak terasa air mata ini telah mengalir membasahi pipiku. Aku begitu kecewa dengan sikapnya hari ini. Aku benar-benar tidak menyangka kata-kata itu keluar dari Petra, kekasih yang selalu sabar dan telaten dalam menghadapiku.

Hari ini aku tidak berencana kemanapun, selain berdiam diri di kamar dan menangis. Bahkan aku saja sampai tidak berani untuk bertatap muka dengan mama dan papa saat sarapan. Mereka memang sempat bertanya kepadaku tentang mataku yang sembab.

“Aku nggak apa-apa kok, ma, pa!” jawabku sembari nyengir lebar, meskipun dengan terpaksa.

Setelah sarapan dan membantu mama di dapur sebentar, aku pun kembali ke kamar. Tuhan, cobaan apa yang engkau berikan disaat hari bahagia ini?

Pagi, siang, dan sore. Petra sama sekali tidak berusaha menghubungiku. Telepon di rumah kek, datang ke rumah kek, apapun itu yang biasa ia lakukan saat kami marahan tapi kali ini ia tidak lakukan.

Miris banget hati ini ketika ingat kejadian tadi pagi.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 5 lewat 2 menit. Matahari telah menghilang dan meninggalkan sisa-sisa sinarnya di ufuk barat. Kali ini masih belum ada kabar dari Petra termasuk tanda-tanda kehadirannya di rumah.

Aku duduk di ruang tengah sore ini sembari melihat Spongebob Squarepants yang ditayangkan di televisi bersama mama.
“Kamu nggak keluar sama Petra?” Tanya mama tiba-tiba saat kami tengah asik tertawa dengan tingkah konyol Spongebob dan Patrick.

“Nggak ma. Males aja!” jawabku singkat. Dan aku kembali badmood.

“Lho hari ini kan hari jadian kalian? Kenapa nggak keluar jalan-jalan?” Tanya mama lagi. kali ini pertanyaannya membuatku sedikit terkejut. Bahkan mama ingat dengan anniversary ku dengan Petra. Tapi kenapa Petra sendiri bisa lupa?
Aku hanya tersenyum kecut. Kemudian pamit untuk kembali ke kamar. Kumat deh badmood ku. Di kamar, aku mencoba mencari ponselku yang tadi pagi ku lempar ke tempat tidur. Aku pun mengaktifkan ponselku, barangkali Petra telah mencoba untuk menghubungiku.

One message received
Steph, aku tunggu di Taman jam 12 siang ini. aku bakalan tunggu sampai kamu dateng. Petra

Tak lama kemudian, masuk sms yang sama beberapa kali sampai sms ke 27. Dan ia juga telah berusaha menghubungiku sebanyak 56 kali panggilan.

God, jam 12? Apa itu artinya dia telah menungguku sejak siang tadi? Aku pun segera mengambil jaketku dan bergegas menuju Taman.

“Mungkin dia sudah menyerah. Karena tadi sore sempat hujan. Dia pasti sudah pulang!” gumamku saat perjalanan menuju taman.

Sesampainya disana, tak disangka Petra masih duduk di salah satu bangku yang disediakan disana. Ia duduk sembari mendekap tubuhnya. Tuhan, dia nampak kelelahan karena menungguku. Aku pun berjalan menghampirinya. Dan dia perlahan mendongak ke arahku begitu ia menyadari kehadiranku.

“Petra? Kamu..”

Petra bangkit dari duduknya dan menggenggam tanganku erat. “Jangan katakan apapun. Kali ini aku ingin minta maaf padamu, Happy Anniversary sayang!”

“Petra?” tanyaku tidak percaya ia mengucapkan happy anniversary kepadaku.

“Maafkan aku karena semalam aku memang sengaja melupakanmu. Aku ingin membuatmu kesal. Dan maaf juga untuk tadi pagi karena aku tidak benar-benar marah dan bermaksud lain kepadamu. Itu hanya skenario kecil yang aku buat sebagai hadiah anniversary kita.”

“Petra? Kau benar-benar sukses membuatku membencimu!” ucapku sembari tersenyum manis kepada Petra.

“Kali ini maafkan aku karena aku tidak sanggup memenuhi permintaanmu untuk candle light dinner di puncak gedung.”

Aku terkekeh pelan. “Aku hanya bercanda denganmu. Itu karena aku terlalu kesal terhadapmu yang cuek denganku!”

Petra semakin menggenggam tanganku erat. “Yakinlah hatiku dan sayangku hanya untukmu. Akan kuberikan semuanya kepadamu. Dan aku sangat menyayangimu!”

“Lalu apa kamu tidak menyayangi keluargamu jika kamu memberikan semua perasaan sayangmu kepadaku?” tanyaku.

“Aku hanya sedikit memberikan sentuhan gombal kepadamu!” jawab Petra dengan nada sedikit menggoda.

“Aku mencintaimu!” ujar Petra lagi dan kemudian bibir ini basah. Semakin dalam semakin hangat. Dan aku merasakan kenyamanan ketika bibir ini bersentuhan. Sebuah kecupan manis dari Petra sebagai hadiah Anniversary kami yang ke-5.

Aku sangat sangat terkejut dengan caranya memperingati anniversary ke-5 ini. Dan lebih terkejut lagi dengan kecupan manis datang sebagai hadiahnya. Ciuman yang sempurna : )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar