22.7.11

Ini Impian KU

Ngomongin impian.. sebenernya aku sebagai manusia normal banyak banget yang aku inginkan dan aku wujudkan selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan untukku. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna di masyarakat dan menerapkan serta memanfaatkan ilmuku kepada masyarakat yang masih awam dengan kesehatan.

Tapi, ada satu hal yang ingin aku wujudkan sejak aku mulai mengenal kata-kata yang indah dan tersusun rapi di sebuah buku jurnal milik kakak perempuanku. Ya, dia salah satu penulis hebat yang aku kenal. Ketika aku membacanya karyanya, Aku seperti ketergantungan dengan narkotika, sehingga aku ingin membacanya berulang kali. Dan aku semakin hilang kesadaran ketika aku sudah mulai untuk mencoba menulis sendiri sebuah cerita yang dihasilkan dari ideku sendiri.

Singkat kata, impianku itu adalah …

Aku ingin menjadi seorang penulis yang hebat dengan sebuah buku yang diakui oleh pembacanya.

Ya, terdengar sangat simple.. but difficult.

Sangat sulit untuk mewujudkannya. Mungkin sejak aku mengenal blogging, aku mulai percaya diri untuk mengeksplor beberapa tulisan dari pikiranku sendiri. Meskipun belum mendapat tanggapan sama sekali dari yang membacanya.

Aku memang bukan ahli bahasa dan aku nggak ahli dalam hal mengolah kata-kata. Aku hanya bermodalkan semangat dan rasa percaya diri. Aku tahu, mungkin akan ada orang yang menertawakan ini. Tapi aku yakin, dengan ketekunan dan terus belajar.. aku akan bisa menjadi seorang penulis yang hebat.

“Emang bikin buku gampang?” yayaya, kritikan yang selalu aku terima tapi aku menerimanya dengan lapang dada sebagai wujud motivasi yang diberikan kepada si pengritik padaku. Akan tetapi, aku masih ingat ketika seseorang berkata kepadaku,

“Aku ingin melihat kamu menjadi seorang pembicara dalam sebuah seminar yang membahas tentang buku pertama yang kamu lahirkan dari idemu. Teruslah belajar untuk menjadi seorang penulis yang hebat!”
Kalimat itu akan selalu aku ingat dan akan aku jadikan motivasi terbesar untukku dalam menggapai impianku, setinggi apapun itu..

Semangat!!!

18.7.11

My Angel *bagian 2*

 Aku tersenyum kecut dan beruntunglah ayah segera keluar dari kamar. Saat itu juga aku mengalihkan pembicaraan, karena jika pembicaraan tadi diteruskan aku akan terlihat salah tingkah dibuatnya.

 “Ayah, kapan kita berangkat?” tanyaku pada ayah.

 “Nanti setelah makan siang. Kamu segera ganti baju dan siap-siap. Setelah itu bergegaslah ke meja makan.”

 Aku sungguh tak percaya dengan tamu yang kini berada di rumahku. Ya, dia lah cinta pertamaku saat aku baru duduk di kelas satu SMP dan dia di kelas tiga SMP, Mario. dia teman sekelas Bima saat kelas tiga SMP. Dia juga sering main ke rumah, belajar bareng Bima, bahkan kami dulu pernah main bersama. Aku sempat mengatakan pada Bima bahwa aku mulai suka dengan Mario, dan Bima hanya tertawa ngakak mendengarnya. Aku sudah menyuruh Bima untuk tutup mulut, tetapi ia malah mengatakannya pada Mario di depanku, bayangkan di depanku. Oh sungguh betapa malunya aku saat itu.

 Tapi Mario malah menanggapinya dengan senyuman manisnya. Ia tak menjawab apa-apa. semoga ia nggak mengira bahwa aku telah menembaknya. Mario saat itu bertubuh kurus dan tinggi. Nggak sebegitu menarik sih, tapi entah kenapa aku bisa naksir dengannya. Mungkin karena kedua lesung pipinya. Setelah lulus SMP, Mario nggak pernah lagi main ke rumah. Bahkan Bima pun telah lost contact dengannya. Sejak saat itu aku telah mengubur dalam-dalam perasaan itu. Tapi entah mengapa, sekarang Bima membawakanku sosoknya, sosok Mario yang telah berubah.

 Kini, Mario semakin ganteng. Kulitnya putih bersih, badannya lebih tinggi dan nggak kurus-kurus amat. Wajahnya selalu datar dan berkharisma, masih sama seperti dulu. Hanya saja sekarang lebih menawan. Dengar-dengar sekarang ia menempuh pendidikan di ITB jurusan komunikasi. Waw, keren!! Beda dengan Bima yang memilih jadi chef.

 Entah mengapa saat aku bertemu dengan Mario tadi, jantungku berdegup kencang sama persis saat aku bertemu dengannya dulu. Padahal aku sudah mengubur perasaan itu dalam-dalam. Apakah rasa itu akan kembali lagi?

 Setelah makan siang, kami pun berangkat ke Tangkuban Perahu. Dan apa yang terjadi? Mario juga ikut serta dengan kami ke Tangkuban Perahu. Perjalanan kali ini cukup melelahkan, tapi hal itu tak membuat kami berhenti bernyanyi sepanjang perjalanan. Aku memotret pemandangan dengan apik selama perjalanan. Ya, aku sangat suka dengan fotografi. Makanya ayah memberiku sebuah kamera poket saat aku berulang tahun.

 Sesampainya disana, setelah lelah jalan-jalan dan berfoto, kami pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Tapi emang dasar aku yang nggak bisa diem, aku pun memilih jalan-jalan daripada duduk dengan mereka sambil menikmati kacang rebus. Kali ini aku hanya ditemani Mario untuk jalan-jalan dan memotret pemandangan disana.

 “Angel, apa perasaan kamu masih sama seperti dulu?” Tanya Mario tiba-tiba yang membuatku menghentikan kegiatanku saat itu.

 “Apa? perasaan apa?” tanyaku bingung.

 “Kamu masih menyukaiku seperti dulu?”

 Aku tertawa mendengar pertanyaannya. “Ah, kak Mario bisa aja. Itu kan udah berlalu lama banget, kak?”

 “Kalau gitu giliran aku dong yang bertepuk sebelah tangan.”

 “Maksudnya?”

 “Ya, sekarang aku yang suka sama kamu. Tapi kamu malah udah menganggapnya berlalu.”

 Aku terkejut begitu mendengar Mario mengatakan hal itu padaku. “Apa yang kakak bilang? Kak Mario suka sama Angel?”

 Mario mengangguk mantap dan menatap mataku dalam-dalam. “Kamu masih menyimpan perasaan itu kan? Kalau sudah kamu buang, bolehkan kalau aku mencoba untuk mengembalikan perasaan itu ke hatimu?”

 “Ah, kak Mario ini ngomong apa’an sih?

 Tiba-tiba handphoneku berdering, Bima meneleponku.

 “Apa? ayah pingsan kak? Ya, Angel segera kesana!”

 Aku pun segera bergegas menuju tempat ayah pingsan bersama Mario. setelah aku dan Bima mencoba berbagai cara untuk membangunkan ayah, tapi ayah tetap tak mau bangun. Sesekali ia membuka mata, tapi tubuhnnya sangat lemah dan kemudian memejamkan mata lagi. Kami pun berinisiatif untuk membawa ayah ke rumah sakit dengan mobil yang dikendarai oleh Mario. beruntunglah ada Mario, karena aku dan Bima nggak bisa sama sekali menyetir mobil.

 Sesampainya di rumah sakit, ayah segera dilarikan ke UGD. Hampir setengah jam aku menunggu di depan UGD dengan perasaan cemas dan khawatir. Ketika dokter keluar dari ruang UGD, aku dan Bima segera menanyakan apa yang terjadi.

 “Dok, kami anak-anaknya. Bagaimana keadaan ayah kami, dok?” Tanya Bima pada dokter tersebut.

 “Kalian tenang dulu, kita bicarakan di ruangan saya saja.”

 Kami pun menuruti perkataan dokter Lukman tersebut. Setelah berada di ruangannya, beliau mulai mengatakan hal tentang kondisi ayah.

 “Penyakit jantung ayah kalian kambuh. Untuk sementara waktu ini, ayah kalian harus dirawat di rumah sakit!”

 “Penyakit jantung?” Tanya Bima histeris.

 “Bagaimana kondisi ayah sekarang, dok?”

 “Ya, ayah kalian mempunyai riwayat penyakit jantung. Jadi jangan membuatnya terkejut dan terlalu capek. Keadaannya sekarang sudah membaik. Beliau sudah melewati masa kritis dan sudah boleh untuk dijenguk.”

 Aku dan Bima masih belum percaya dengan apa yang dibicarakan oleh dokter Lukman. Selama ini ayah nggak pernah bercerita tentang penyakitnya ini. Bagaimana bisa ketika ayah tiba-tiba sakit dan kemudian dinyatakan penyakit jantungnya kambuh? Sejak kapan ayah mengidap penyakit jantung? Kami segera bergegas masuk ke ruang rawat inap ayah. Disana sudah ada Mario yang duduk di sofa kamar tersebut.

 “Om Andre sudah siuman!” ucap Mario begitu kami datang. Sebelumnya aku telah meminta Bima untuk tidak menanyakan tentang penyakit jantung ayah kepadanya. Anggap saja kami berdua belum tahu dan membiarkan ayah untuk beristirahat.

 “Ayah, apa yang ayah rasakan sekarang? Ayah sudah membaik?” tanyaku pada ayah sambil memeluk erat tubuh ayah yang terkulai lemas.

 “Ayah baik-baik saja. dokter pasti mengatakan bahwa ayah hanya butuh istirahat saja kan? Sekarang lebih baik kalian pulang ke rumah. Beristirahatlah dulu. Ayah bisa disini sendirian, kan sudah ada suster yang merawat ayah!”

 “Tapi ayah.. “

 “Sudahlah pulang saja. Mario, antarkan mereka pulang ya? Kamu menginap di rumah dulu saja, temani Bima dan Angel.” Ucap ayah memotong pembicaraanku.

 Mario mengangguk paham dan kami kembali ke rumah.

***

 Seminggu kemudian ayah boleh pulang dari rumah sakit. Tapi aku dan Bima sudah berjanji pada dokter Lukman untuk nggak membiarkan ayah bekerja berat dan membuatnya capek. Untuk sementara ini, Bima yang mengendalikan usaha catering ayah. Beruntung juga Bima bisa diandalkan dalam hal memasak.

 “Ayah, ayah istirahat aja ya? Kalau perlu apa-apa ayah panggil Angel aja. Angel janji akan penuhi apapun keinginan ayah!” ucapku setelah membantu ayah berbaring di tempat tidur.

 “Usaha catering kita bagaimana?” Tanya ayah.

 “Tenang aja ayah. Kita serahkan pada chef Bima, mahasiswa tata boga. Hehee!”

 Ayah tersenyum menanggapi leluconku. “Angel, ayah sangat rindu pada ibu!”

 “Ayah, Angel juga. Bukan hanya ayah, Angel dan kak Bima pun sangat merindukan ibu!”

 “Bagaimana kalau ayah ingin segera bertemu ibu di surga?”

 “Ayah ngomong apa’an sih? Ya udah, Angel bantu kak Bima di dapur dulu. Sekarang ayah istirahat aja ya? Kalau butuh apa-apa panggil aja Angel dan Angel akan segera datang membantu ayah!” ucapku sambil tersenyum sebelum aku meninggalkan ayah sendirian di kamar.

 Semenjak ayah sakit, aku sering menghabiskan waktuku di rumah bersama ayah. Begitu juga Bima, ia segera pulang dari kampus setelah jam kuliahnya selesai dan mengerjakan pesanan catering. Rahmi dan Sisil sekarang juga sering datang ke rumah untuk membantu menghibur ayah.

 Setiap sore aku selalu mengajak ayah jalan-jalan ke kebun di sebelah rumah kami.

 “Ayah nggak bosan kan?” tanyaku pada ayah saat kami jalan-jalan ke kebun.

 Ayah menggeleng dan berkata, “Selama ada Angel dan kak Bima disisi ayah, ayah nggak akan pernah mati kebosanan. Melihat wajah Angel aja, ayah udah bahagia banget.”

 “Ah ayah gombal! Oh ya ayah, Angel ingin minta pendapat ayah nih!”

 “Pendapat apa sayang?” Tanya ayah sembari membelai lembut rambutku.

 “Kak Mario ngajak Angel jalan-jalan. Mau nggak ya, yah enaknya?” tanyaku.

 Ayah tertawa dan berkata, “Mau aja deh. Ayah juga pengin lihat Angel bawa pacar Angel ke depan ayah!”

 “Ah ayah mulai deh!”

 Kami pun tertawa bersama.

 Malam yang ditunggu pun tiba. Mario telah menungguku di teras dan entah mengapa kali ini aku ingin terlihat cantik di depan Mario. hatiku juga berdegup dengan kencang. Namun, sebelum berangkat aku berpamitan pada ayah yang tengah beristirahat di kamar.

 “Ayah demam?” seruku kaget begitu mencium kening ayah dan mendapatinya dalam keadaan demam.

 “Sudah berangkat sana, nggak perlu peduli’in ayah. Ayah nggak apa kok, sayang!”

 “Bagaimana ayah bisa bilang nggak kenapa-kenapa. Ayah demam sekarang!”

 “Ini Cuma demam biasa kok, Angel. Kamu nggak perlu khawatir. Nanti biar ayah suruh Bima panggil dokter.”

 “Tapi kak Bima belum datang. Kak Bima masih mengantar catering, ayah.”

 “Berangkat aja. Bukannya malam ini adalah malam yang sudah kamu tunggu-tunggu. Selama kamu percaya sama ayah, ayah akan baik-baik aja!”

 “Baiklah Angel berangkat sekarang. Kalau ada apa-apa telepon Angel ya, ayah?”

  Ayah pun mengangguk dan tersenyum. “Semoga malam ini adalah malam special untukmu, Angel!”

 Aku pun akhirnya keluar berdua dengan Mario. malam ini Mario mengajakku makan di sebuah kafe yang terletak di daerah pusat perbelanjaan Cihampelas, Hillarious Breakfast and Café. Malam ini Mario terlihat berbeda dari biasanya. Awalnya kami berdua sama-sama canggung, apalagi aku. Aku seperti salah tingkah sendiri.

 “Kamu kok salting gitu sih? Kamu naksir aku yaa? Tau aku terlihat ganteng malam ini?” celetuk Mario yang akhirnya dapat mencairkan suasana.

 “Ah, kamu bisa aja kak. Oh ya, tumben banget kakak ngajak aku makan di tempat ginian?”

 “Ehem ehem.. sebenernya aku pengin ngomong sesuatu sama kamu!”

 Aku memandang Mario heran, sedangkan dia malah memandangku penuh arti.

 “Kamu mau kan jadi pacarku? Aku suka sama kamu, Angel. Sejak aku masih ingusan sampai sekarang!”

 “Ah, gombal. Mana mungkin? Dulu ketika kak Bima mengatakan kalau aku suka sama kakak, kakak diem aja tuh!” protesku padanya.

 “Ya, saat itu emang aku diem. Karena aku masih ragu dengan perasaanku. Tapi seiring berjalannya waktu aku semakin yakin dengan perasaan ini. Aku sering bertanya tentang keadaanmu pada Bima ketika kami telepon atau bertemu. Aku juga suka nongkrong di warung depan sekolahmu untuk melihatmu dari kejauhan.”

 “Kalau gitu, kamu pengecut dong!”

 “Ya, aku memang selalu jadi pengecut ketika hal itu berkaitan denganmu. Tapi kamu mau kan menerimaku? Kamu masih menyimpan rasa untukku kan?” Tanya Mario sembari menggenggam erat tanganku.

 Dengan malu-malu, aku pun mengiyakan ajakan Mario untuk menjadi kekasihnya. Tampak dengan jelas, Mario begitu bahagia begitu aku mengatakan iya atas permintaannya. Setelah makan di Hillarious, kami berencana mampir untuk jalan-jalan ke mall. Tapi sebelumnya aku ingin menelepon Bima untuk memberitahukan bahwa aku akan pulang terlambat.

 “Yah, handphoneku lowbat!”

 “Pakai handphoneku aja, my angel!” ucap Mario sembari menyerahkan handphonenya padaku.

 “Nggak deh. Mungkin kak Bima juga akan tahu kalau aku akan pulang sedikit terlambat.”

 Kami pun melanjutkan jalan-jalan, sampai tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 09.00 malam. Saatnya pulang!!

 Sesampainya di rumah, aku melihat Rahmi dan Sisil sedang berdiri di depan pagar dengan wajah cemas.
 “Ada apa? kalian kenapa malam-malam begini ada disini?” tanyaku pada Rahmi dan Sisil begitu turun dari mobil.

 “Tadi kami ditelepon kak Bima untuk menunggumu pulang dan mengabarkan…”

 “Mengabarkan apa, Sil? Apa yang terjadi?” tanyaku tak sabar.

 “Om Andre masuk rumah sakit lagi. Tadi dia pingsan!” jawab Rahmi.

ada apa dengan ayah? apa ayah sakit lagi?? Tuhan ijinkan ayah sembuh dari penyakitnya! Angel sangat sayang pada ayah ...

10.7.11

Kalimat Inspiratif :)

Catatan seorang penulis buku ini bisa menjadi pelajaran yang berharga:

"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini."


Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

Sumber buku :  prepare u'r success Membangun Fondasi Kesuksesan Karier Sejak Bangku Kuliah (Ryan Sugiarto & Prof. Djamaludin Ancok, Phd.)

Bruno Mars - Marry You

It's a beautiful night,

We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.



Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.



Well I know this little chapel on the boulevard we can go,
No one will know,
Come on girl.
Who cares if we're trashed got a pocket full of cash we can blow,
Shots of patron,
And it's on girl.



Don't say no, no, no, no-no;
Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
And we'll go, go, go, go-go.
If you're ready, like I'm ready.



Cause it's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.



Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.



I'll go get a ring let the choir bells sing like oooh,
So whatcha wanna do?
Let's just run girl.



If we wake up and you wanna break up that's cool.
No, I won't blame you;
It was fun girl.



Don't say no, no, no, no-no;
Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
And we'll go, go, go, go-go.
If you're ready, like I'm ready.



Cause it's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.



Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.



Just say I do,
Tell me right now baby,
Tell me right now baby. [x2]



Cause it's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.



Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.

9.7.11

10 Cara Belajar Efektif dan Efisien

 Sebentar lagi akan dimulai awal tahun ajaran baru. Akhirnya selama tiga minggu menghabiskan waktu bersama keluarga, tiba saatnya juga kembali merasakan aroma sekolah yang sangat aku rindukan. Sudah saatnya aku bangun pagi-pagi dan berangkat pagi-pagi juga ke sekolah dengan menenteng tas yang dipenuhi dengan buku-buku yang super berat.

 Untuk menyambut suka cita awal tahun pelajaran 2011-2012, berikut ini aku akan memberikan tips belajar yang efektif dan efisien. Yah, semoga saja ini berguna untuk para pelajar diluar sana yang kebingungan mencari solusi belajar. Dan semoga bermanfaat untuk diriku sendiri dan teman-teman sekolah yang sudah menjadi siswa kelas 12 yang harus siap menghadapi serentetan ujian yang melelahkan.

 Check it out!!

1.       NIAT
Mengucapkan niat untuk belajar sungguh-sungguh dan berdoa supaya diberikan kemudahan dalam belajar dan ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Insya Allah jika sudah berniat, maka segala sesuatunya akan dimudahkan oleh-Nya.

2.       FRESH
Tidak dalam keadaan kelelahan, sakit, maupun banyak pikiran. Jika sedang sakit ataupun kelelahan, istirahat sejenak. Karena meskipun dipaksakan, hasilnya juga tidak akan maksimal. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Jika suka musik, nyalakan musik (tapi jangan dalam volume keras). Atau yang suka nyemil, sediakan cemilan di atas meja belajar. Jangan sampai kekenyangan ya? Karena efeknya mengantuk.

3.       MOOD
Ciptakan suasana hati yang bagus karena secara otomatis akan menambah semangat dalam belajar. Jangan dalam keadaan bad mood untuk memaksakan belajar, karena yang ada tambah marah-marah nggak jelas. Tenangkan pikiran, pejamkan mata, jika suasana hati menjadi lebih baik, lanjutkan belajar.

4.       PEMAHAMAN
Garislah bagian-bagian yang penting yang ada di dalam buku pelajaran. Catat apa yang tidak dimengerti dan tanyakan kepada guru bidang studi besok ketika berada di sekolah. Fokuslah pada bacaan yang telah dianggap penting (yang telah diberi garis dengan pensil maupun stabile)

5.       ULANG
Setelah membacanya sampai habis, ulangi dari awal dan lakukan secara berulang-ulang. Hal ini membuat otak lebih mudah mengingatnya. Ingat harus tetap berkonsentrasi.

6.       KEMBANGKAN
Setelah memahami bacaan tersebut, kembangkan kalimat-kalimat tadi dengan bahasa yang mudah dipahami (bahasa kalian sendiri).

7.       CATATAN
Ada baiknya untuk membuat sebuah catatan intisari kecil. Jika membawa buku pelajaran kan sedikit repot, nah buku ini lebih simple dan praktis untuk dibawa kemana-mana. Jadi kita bisa membacanya dimana saja. catatan ini berisi kalimat-kalimat yang telah ditulis ulang dengan bahasa sendiri yang mudah dipahami.

8.       DISIPLIN
Disiplin dalam belajar dan disiplin waktu juga harus diterapkan jika menginginkan belajar yang efisien. Karena kunci keberhasilan pada dasarnya karena sifat disiplin kita dalam belajar. Jika sudah tiba waktu belajar, maka bergegaslah belajar jangan malah keasyikan nonton tv.

9.       HINDARI SKS
Hindari hal yang satu ini, system kebut semalam. Karena system ini membuat otak kita bekerja lebih keras dan memori yang dapat disimpan hanya untuk sementara. Hindari juga belajar secara berlebihan karena segala sesuatunya yang berlebihan tidaklah baik. Sebaiknya malam sebelum ujian kita gunakan untuk istirahat dan menambah stamina untuk ujian besok, bukannya malah serius belajar mati-matian.

10.   JUJUR
Jujur dalam mengerjakan soal-soal ujian. Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian, karena dengan mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya.
  •  Semoga tips tadi dapat bermanfaat untuk kalian semua. Selamat mencoba J

Travie McCoy feat Bruno Mars - Billionaire

I wanna be a billionaire so frickin bad
Buy all of the things I never had
I wanna be on the cover of Forbes Magazine
Smiling next to Oprah and the Queen
Oh every time I close my eyes
I see my name in shining lights, yeaaah
A different city every night oh I swear
The world better prepare for when I’m a billionaire

Yeah I would have a show like Oprah
I would be the host of
Everyday Christmas give Travie a wish list
I’d probably pull an Angelina and Brad Pitt
and adopt a bunch of babies that ain’t never had sh!t
Give away a few Mercedes like here lady have this
And last but not least grant somebody their last wish
It’s been a couple months since I’ve single so
You can call me Travie Claus minus the ho-ho
Get it, I’d probably visit where Katrina hit
And damn sure do a lot more than FEMA did
Yeah can’t forget about me stupid
Everywhere I go Imma have my own theme music

Oh every time I close my eyes
I see my name in shining lights
A different city every night oh I swear
The world better prepare for when I’m a billionaire
(oooh ooh) when I’m a Billionaire
(oooh ooooh)

I’ll be playing basketball with the President
Dunking on his delegates
Senator … his political etiquette
Toss a couple milli in the air just for the heck of it
But keep the fives, twenty’s …completely separate
And yeah I’ll be in a whole new tax bracket
We in recession but let me take a crack at it
I’ll probably take whatever left and just split it up
So everybody that I love can have a couple bucks
And not a single tummy around me
Would know what hungry was
Eating good sleeping soundly
I know we all have a similar dream
Go in your pocket pull out your wallet
And put it in the air and sing

I wanna be a billionaire so frickin bad (so bad)
Buy all of the things I never had
I wanna be on the cover of Forbes Magazine
Smiling next to Oprah and the Queen
Oh every time I close my eyes
I see my name in shining lights
A different city every night oh I swear
The world better prepare for when I’m a billionaire
(oooh ooh sing it) when I’m a Billionaire
(oooh ooooh)
I wanna be a billionaire so frickin bad

nb. Merah = Bruno Mars dan Ungu = Travie McCoy

8.7.11

My Angel *bagian 1*

 Aku termenung di kamarku sendiri sembari memandang ke arah luar jendela. Semenjak kepergian putri bungsuku, aku lebih banyak menyendiri di kamar. Ya, putriku meninggal karena kecelakaan, meskipun orang yang menabraknya mengaku bahwa putriku lah yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan. Aku jelas tak mempercayainya, karena dia adalah putriku. Aku sangat mengenal putriku. Dia tak mungkin melakukan hal-hal yang begitu bodoh. Dengan alasan seperti itu dan diperkuat dengan kesaksian saksi mata di tempat kejadian perkara, sopir truk yang menabrak putriku dibebaskan dari penjara.

 Aku begitu marah dengan keputusan hakim. Tapi aku juga begitu pahit menerima bahwa putriku diduga bunuh diri. Atas dasar apa ia bunuh diri? Setahuku dia tak pernah mengalami masalah dengan banyak orang. Ia juga tak pernah mengalami hal-hal yang begitu mengguncang hatinya.

 Sudah tiga tahun semenjak kepergiannya. Kini aku tinggal bersama putra sulungku dan istrinya di Bandung. Aku juga baru saja operasi jantung tiga tahun yang lalu, pas sehari setelah kepergian putriku. Kini, aku hidup dengan tenang di Bandung, meskipun aku masih dibayangi dengan kenanganku bersama putriku.

 Besok adalah hari ulang tahunnya, aku ingin ziarah ke makamnya dan membuatkannya kue tart. Aku sudah merencanakan hal ini dengan putraku dan ia mengangguk setuju.

 “Ayah? Sedang apa ayah melamun sendiri di kamar?” Tanya Bima, putraku yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.

 “Ayah sedang mengingat Angel. Besok adalah hari ulang tahunnya. Biasanya kita selalu merayakannya dengan makan-makan di restoran. Sekarang dia sudah tidur dengan tenang bersama ibumu!”

 “Ayah, ada sesuatu yang ingin Bima bicarakan pada ayah. Aku rasa bahwa waktu selama tiga tahun membuat ayah kuat menghadapinya.”

 “Apa itu?” Tanya ayah penasaran.

***

 Hai, perkenalkan namaku Angelica. Biasanya aku akrab disapa Angel oleh semua orang. Ya, sama seperti namaku, aku adalah seorang gadis cantik yang dilahirkan dari dua orang malaikat baik hati, ayah dan ibu. Hehee..

 Sayangnya, ibuku telah meninggal saat aku masih kecil karena kecelakaan. Padahal aku baru saja bisa bersenang-senang dengan ibu. Bermain di taman, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di Bandung, menikmati es cream durian di daerah Cihampelas bersama, dan berbelanja sepatu di Cibaduyut. Aku dan ibu memang gemar mengoleksi sepatu. Bahkan karena sepatu kami terlalu banyak, ayah suka memberikannya pada saudara-saudara kami yang tidak mampu.

 Dulu aku sangat dekat dengan ibu, bahkan aku hampir melupakan sosok ayah. Hehee. Namun semenjak kepergian ibu, aku menjadi sangat dekat dengan ayah. Dulu ayah adalah seorang guru, namun karena kepergiaan ibu , ayah memilih keluar dari pekerjaannya dan membuka usaha catering kecil-kecilan. Ayah memilih keluar dari pekerjaannya agar ayah dengan mudah menjaga dan mengawasiku. Makhlum saat itu aku masih berumur 6 tahun. Aku masih sangat butuh perhatian dari orang tuaku.

 Tak kusangka ayah ternyata sangat sayang padaku. Oh ya, aku juga mempunyai seorang kakak laki-laki. Namanya Bima. Aku dan Bima hanya selisih dua tahun saja. hal itu membuat kami sangat dekat dan tak jarang Bima selalu melindungiku dari teman-temanku yang hendak berbuat usil padaku. Singkat kata, Bima adalah kakak yang selalu aku andalkan dan aku banggakan. Ia juga pintar dan tak jarang ia suka mengajari dan menemaniku belajar di malam hari bersama ayah.

 Kami bertiga menjadi sangat dekat. Bahkan kemana-mana selalu bertiga. Yang awalnya aku jalan-jalan hanya dengan ibu, kali ini setiap aku jalan-jalan selalu dengan ayah dan Bima. Hidup menjadi lebih berwarna saat itu. Andai saja ibu masih hidup, mungkin keceriaan ini akan semakin lengkap rasanya. Oh ya, setiap ulang tahun ibu.. aku, ayah dan Bima selalu ziarah ke makam ibu dan membuatkannya kue tart yang kami nikmati bersama. Kami bertiga selalu bergantian untuk meniup lilin ulang tahun ibu. Aku sangat merindukan ibu.

 Suatu ketika aku pernah bertanya pada ayah saat aku dan beliau sedang bersantai di teras rumah.
 “Ayah, kenapa ayah tidak menikah lagi?”

 Ayah tertawa mendengar pertanyaanku. “Angel ingin ayah menikah lagi?”

 “Aku kan hanya bertanya ayah. Bukan berarti aku menginginkan ayah menikah lagi.”

 “Jangan ayah. Ibu tiri itu kejam. Seperti di cerita Cinderella itu. Hii, Bima nggak mau punya ibu tiri!” sahut Bima spontan.

 Lagi-lagi ayah hanya tertawa mendengar penuturan Bima. “Ayah sangat mencintai ibu. Maka dari itu ayah tidak ingin menikah dengan wanita lain. Cukup ibu wanita satu-satunya dalam kehidupan ayah.”

 “Jadi Angel bukan nih. Ayah nggak sayang sama Angel?”

 “Ya, sayang.. hanya ibu, Angel dan kak Bima. Hari sudah larut malam, lekaslah ke kamar dan tidur. Ayah sudah mengantuk!”

 Kami pun menuruti perkataan ayah dan segera bergegas ke kamar masing-masing. Saat ayah mengira bahwa aku telah kembali ke kamar, aku melihat ayah sedang menangis sembari memandang foto ibu. Sejak saat itu aku sangat yakin bahwa hanya ibu lah wanita yang dicintai ayah. Aku pun nggak akan bertanya seperti itu lagi, karena itu sama saja mengingatkan ayah tentang kenangan ibu.

***

 Hari ini adalah hari Sabtu. Aku segera pulang ke rumah begitu jam pelajaran usai. Dari gerbang aku melihat Rahmi dan Sisil, sahabatku yang melambaikan tangan padaku. Aku tahu mereka ingin memanggilku, tapi aku ingin segera pulang dan memberi isyarat pada mereka bahwa aku sedang terburu-buru. Bersyukurlah mereka mengerti.

 Oh ya, selain ayah, ibu, dan Bima, ada juga Rahmi dan Sisil, sahabat yang selalu aku sayang. Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang di bangku sekolah menengah atas. Rumah kami juga berdekatan, itulah yang membuat kami tetap dekat. Kami juga sering menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke daerah Cihampelas sepulang sekolah. Kami juga suka belanja baju bersama, makan bersama, dan nongkrong bersama. Banyak banget pengalaman yang aku dapat selama berteman dengan mereka. Banyak kejadian seru dan menyedihkan yang pernah kami alami bersama.

 Kami pernah sama-sama kabur dari rumah karena orang tua Sisil tak mengijinkannya pergi untuk rekreasi ke Jakarta. Karena itu aku dan Rahmi membawanya kabur lewat jendela kamarnya. Besoknya orang tua Sisil datang dan memarahi ayah. Setelah meminta maaf, ayah langsung memarahiku atas kenalakanku. Aku hanya bisa tertunduk dan meminta maaf pada ayah. Bersyukurlah baik orang tua Sisil dan ayah tidak ada yang melarang kami untuk tetap berteman.

 Ah, aku sampai lupa. Aku harus segera pulang, karena ayah berjanji padaku untuk mengajakku dan Bima jalan-jalan ke Tangkuban Perahu. Hhm, sudah lama aku nggak kesana. Terakhir saat aku berumur tiga tahun dan aku pergi dengan ibu.

 “Angel?” sapa seseorang yang berada di ruang tamu rumahku. Bukan, dia bukan Bima maupun ayah. Entah siapakah dia, aku nggak mengenalnya.

 “Lupa ya sama aku?” Tanya orang itu lagi begitu aku tak menjawab sapaannya dan malah bengong di tempat.

 “Eh, adek kak Bima sudah pulang. Masih inget nggak sama mas ganteng ini?” Tanya Bima yang tiba-tiba keluar dari dapur sembari membawa dua gelas teh hangat.

 Aku menggeleng pelan sambil terus berfikir.

 “Mario, temen kakak yang pernah kamu taksir!” ucap Bima sambil terkekeh pelan.

 “Kak.. kak… kak Mario? temen SMP kak Bima? Kakak kelas Angel?” tanyaku tak percaya.
 Bima mengangguk mantap. “Tambah ganteng yaa?”

 Mario? Dia .. Dia .. adalah ...

bersambung ...

24.6.11

My Holiday at Home T.T


Huah, sepertinya aku selalu kehabisan kata-kata ketika semua orang bertanya padaku
“Liburan kemana?”

Aku hanya tertunduk dan dengan lemas mengatakan,
“Just stay at home!”

Yayaya, semakin lemas lagi ketika semua teman-temanku menjawab seperti ini ketika kutanya tentang liburan mereka,

“Aku ke Bandung, nyobain trans studio!”

“Aku ke Bali sama temen-temen!”

“Aku ke Jogja. Kamu nggak ke jogja biasanya kan kamu ke jogja?”

“Malang dong! Ke BNS lagi!”

“Ke tretes langsung cuss ke Bali!”

“Ke Makassar!”

Haiia, semuanya pada keliling-keliling. Sedangkan aku? 

Huh, berikut ini akan ku ceritakan agenda liburanku dirumah. Pasti kalian akan berpikir …
it’s so boring guys!!

Oke-oke langsung aja ke TKP …

Pertama, dimulai dari bangun tidur.
Liburan ini ku jadikan alasan untuk bangun siang, hehee godaan buat sholat gede bener. Alhasil sholat shubuhnya jarang (Maafkan aku Tuhan T.T)
Bangun, langsung cepet-cepet mandi dan nonton ..

Derings, acara musik yang disiarkan oleh Trans TV dan akhir-akhir ini mengambil tempat di Trans Studio. Bikin ngiri tau nggak? Pengin kesana, ke Trans Studio Bandung T.T
Ya, ini tontonan pertamaku ketika bangun tidur sambil menikmati sarapan pagi.

Kemudian lanjut ke ..

FTV SCTV

Itupun kalo pemainnya terkenal dan ganteng-ganteng. Kalo jelek sih biasanya langsung ke kamar dan online.

Nah, jam 12.00 nggak boleh ada yang menggangguku nonton TV. Acara selanjutnya adalah ..

Yaph Dong yi adalah acaranya. Acara ini ditayangkan di Indosiar mulai jam 12.00 sampai 13.30 Hihihii, file mini keren lho menurutku !!

Next jam 13.30, dulu sih acaranya ini ..

Pasta in Love, karena udah TAMAT, gantinya ini nih .. film yang udah aku tunggu-tunggu untuk tayang di TV, meskipun aku sudah nonton secara online ..

Yaph, film yang dibintangi Kim Hyun Joong ini salah satu film korea favoritku, Naugthy Kiss. Film ini juga ditayangkan di Indosiar mulai jam 13.30 sampai 14.30. hanya satu jam saja T.T

Nah, setelah acara Naugthy kiss, kegiatanku selanjutnya adalah ..

Beres-beres rumah. Seperti menyapu, beresin kamar, dll. Haffu –“

Tapi setelah jam 15.30 aku nangkring lagi di depan TV untuk liat film ini …


Yaph, You are My Destiny. Film ini tayang mulai jam 15.30 sampai 17.00. cukup lama juga sih –“

Setelah acara ini selesai tayang, aku pun kembali ke kamar dan Online lagi sampai mataku mengantuk dan akhirnya Tidur.

Kejadian ini selalu terjadi berulang-ulang setiap harinya selama liburan.

Bayangkan kan betapa membosankannya liburanku?

bagaimana Liburan kalian?

20.6.11

Peri Kecil itu Aku

Sudah hampir sembilan bulan, aku berada di dalam rahim Mamaku. Aku sungguh sangat menikmatinya. Mungkin aku sudah tak ingat bagaimana rasanya hidup di dalam kandungan dan hidup bergantung pada orang lain. Tapi menurutku, hidup dalam kandungan sangatlah menyenangkan. Karena kita tidak perlu bersusah payah bekerja dan memperjuangkan sesuatu. 

Namun, semakin lama aku berada dalam rahim, semakin aku penasaran dengan keindahan dunia luar. Dunia dimana nantinya aku dapat tumbuh dewasa dan mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku diperkirakan lahir pada tanggal 2 Februari 1995, namun pada tanggal 25 Januari 1995 perut Mama mulai berkontraksi. Saat itu aku sangat ingin keluar dari rahim Mama dan mungkin itu memang sudah waktunya untuk aku dilahirkan.

Seketika itu juga Papa membawa Mama ke salah satu rumah sakit di Surabaya, RS William Both. Dan Tepat pukul 12.00 siang, aku dilahirkan dan aku mulai menghirup udara di dunia fana ini. Suka cita keluargaku sangat aku rasakan. Aku bisa merasakan Mama menangis bahagia karena dapat melahirkan bayi perempuan yang sehat dan cantik. Saat itu baik Mama ataupun Papa belum mempersiapkan nama untukku. 

Meskipun aku sudah dibersihkan dari sisa darah dan sudah diberi selimut, aku masih terus menangis. Rasanya aku belum siap untuk berada di dunia fana ini. Rahim adalah dunia yang sangat menyenangkan bagiku. Namun, siap atau tidak siap, aku harus siap dan memulai kehidupan yang baru bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku.

Suster rumah sakit tersebut membawaku ke pangkuan Mamaku. Mama lantas tersenyum menerimaku dan beliau memberikan ASI pertamanya untuk ku minum supaya aku berhenti menangis. Benar, saat aku berada di pangkuan Mama, aku merasa tenang dan merasa damai. Aku mulai berhenti menangis.

Dua hari setelah hari kelahiranku, Papa datang ke rumah sakit membawa kabar gembira untukku dan Mama. Ya, Papa telah menemukan nama yang bagus untukku, nama yang indah untuk anak perempuannya ini. Papa begitu gembira saat mengutarakan nama tersebut kepada Mama.

"Ira Puspita ."

Mama tersenyum dan mengangguk setuju dengan usulan Papa. Sejak saat itulah aku mempunyai nama, nama yang indah dan penuh makna yang akan aku bawa sampai aku mati, Ira Puspita. Dan aku mulai dibiasakan untuk disapa Ira.

Ya, aku tidak sendirian di keluarga kecil dan bahagia ini. Selain ada aku, Mama dan Papa, ada juga kedua kakak perempuanku dan satu kakak laki-lakiku. Mereka adalah Winda, Lucky, dan Dimas. Mereka saudara kandungku yang juga gembira menerima kehadiranku dalam kehidupan mereka.

Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang lucu dan menggemaskan. Tubuhku gemuk dan aku berkulit putih saat itu (meskipun saat ini aku kurus dan berkulit sawo matang --")

Aku sangat suka difoto saat itu. Aku selalu melakukan pose ketika kamera menghadap ke arahku. Keluargaku juga suka menjadikan aku objek foto mereka. Setiap momen yang membuatku terlihat lucu, mereka selalu mengabadikannya. Bahkan saat sekarang, ketika aku melihat kembali album foto masa kecilku, aku suka tertawa sendiri dan tak menyangka aku secentil itu :d

Aku sering menghabiskan waktuku bersama keluargaku. Dan bisa dibilang akulah anak Mama dan Papa yang paling manja. Aku juga punya sifat nangisan, mudah ngambek kalau keinginanku tak terpenuhi, dan aku sangat jahat terhadap saudara-saudaraku. Kata mereka aku suka judes, tapi kalau sudah dijahili atau dijudesin dan dijahati balik, aku suka nangis sekencang-kencangnya. Hihihii, nakal banget yaa? --" Dan sifat suka ngembek kalau keinginanku tak terpenuhi terbawa sampai kehidupanku sekarang ini. Memang watak tak pernah dapat diubah.

Oh ya, salah satu ciri khasku saat kecil adalah rambutku. Rambutku panjang, hitam dan ikal alias ngombak. Banyak orang yang memuji rambut panjangku ini. Saat sekolah, Mama selalu mengepang rambutku. Karena terlalu panjang, pernah sampai rambutku terlilit di resleting tasku dan aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan rambutku harus dipotong sedikit. Kejadian itu menimpaku saat kelas dua SD --"

Karena rambutku mungkin terlalu indah, saat kelas tiga SD rambutku tiba-tiba dipotong cepak. Semua guru SDku mengecewakan hal itu. Bahkan gara-gara rambutku dipotong, aku jadi tidak mau sekolah lagi. Aku malu dan tidak begitu percaya diri dengan rambut cepakku. Sampai Mama harus mengantarku sampai ke dalam kelas. Haduh, malunya!!

Dan seperti anak lainnya, aku juga tak luput dari namanya cinta monyet saat aku duduk di bangku kelas lima SD. Aku nggak harus menyebutkan namanya kan? Yang jelas dia adalah anak pindahan dari sekolah  lain yang terletak di Bali. Ya, dia adalah anak asli Bali. Dia begitu menawan dimataku saat itu. Hihihii.. Setelah kelulusan SD aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Terakhir aku tau kabarnya, dia kembali ke Bali setelah lulus dari SMP swasta di Surabaya. Yah, aku harus merelakan cinta monyetku pergi selamanya --" (eh, bukan innalillahi lho maksudnya)

Kehidupanku di masa kecil sangatlah menyenangkan. Mulai dari bertengkar dengan teman sekolah, bercanda dan bersenang-senang juga dengan mereka, bergurau dengan keluarga, bertengkar dengan saudara, dimarahin Mama dan Papa, dimarahin guru di sekolah, disetrap gara-gara nggak mengerjakan PR, dan aku harus merelakan kakiku karena aku suka bertingkah aneh dengan sepeda pancalku sepulang sekolah. Bahkan aku pernah sampai mencium jalanan saat perjalanan pulang. Pokoknya seru deh :) dan aku nggak akan pernah melupakan masa kecilku.

"Masa lalu adalah bagian dari sejarah. Dan sampai kapanpun sejarah itu akan menjadi bagian dari hidup kita yang harus kita pelajari dan kita jadikan sebagai cermin untuk melangkah ke masa depan !"

19.6.11

My Bestfriend

Arti sahabat untukku adalah segalanya. Mungkin aku akan mementingkan kepentingan sahabat setelah tentunya aku mementingkan keluarga dan kedua orang tuaku. Sahabat juga adalah yang paling berjasa dalam hidupku setelah orang tuaku.

Mereka selalu ada disaat aku membutuhkan sandaran untuk bersandar. Mereka selalu ada di saat air mata ini terjatuh, dan mereka selalu ada dalam setiap tawa dan kebahagiaanku.

Peran sahabat tentunya sangat besar dalam hidupku sampai aku tak dapat menjelaskannya dalam kata-kata.

Mereka selalu ikut menangis ketika aku menangis. Mereka selalu tertawa ketika aku bahagia. Dan mereka selalu ada di belakangku untuk memberiku semangat.

Waktu dua tahun membuat kami begitu dekat satu sama lain. Membuat kami peka dan mengerti perasaan diantara kami. Dua tahun kami jalani hari-hari yang begitu berat di Farmasi dengan suka cita, canda dan tawa. Tak pernah kami mengeluh sedikitpun, selama kami melakukan dan merasakannya bersama. Satu sama lain saling memberi semangat, memberi dukungan, bahwa hari-hari kami masih panjang dan kami harus terus berjuang tanpa kenal lelah untuk menggapai apa yang kami impikan.

Kami masuk bersama pada tahun 2010 dan diterima di kelas sepuluh, di kelas yang sama, SEPULUH C di sekolah menengah kejuruan farmasi. Awalnya kami canggung dan aku pun hanya dekat dengan beberapa orang saja. Namun seiring berjalannya waktu, kami mulai mengenal. Tugas yang selalu diberikan oleh Bapak dan Ibu guru membuat kami bersatu untuk mengerjakannya bersama-sama alias nyontek masal. Hehee.

Ulangan yang begitu banyak dan cukup menyiksa, membuat kami memilih belajar dan menghafal bersama-sama. Kebersamaan inilah yang kami jalani selama dua tahun lamanya di sekolah kami yang tercinta ini.

Meskipun kami berusaha keras mengelak bahwa Ulangan dan tugas yang diberikan teramat berat, namun berkat ulangan dan tugas itulah kami menjadi dekat.

Senyum yang mereka berikan. Semangat yang mereka kobarkan. Membuat kami bertekad untuk terus bersama dan bersatu menjalani hari-hari kami selama tiga hari kedepan.

Namun nyatanya, saat kami sama-sama naik ke kelas duabelas, kami harus berpisah. Itu adalah sebuah keputusan yang sulit bagi pribadi kami masing-masing. Kebijakan sekolah ini membuat salah seorang diantara kami menangis dan tidak lagi mempunyai semangat untuk sekolah. Sungguh tragis. Namun dengan tekad dan dorongan yang kami berikan, akhirnya ia mulai mau menerima keadaan.

Meskipun kelas kami terpisah nantinya, kami akan tetap terus bersatu untuk sama-sama keluar dari sekolah yang membuat kami dekat ini.

Impian kami adalah LULUS 100% dengan nilai yang memuaskan dan mengikuti acara yang bersejarah buat kami selama bersekolah, WISUDA.

Sahabat, kalian adalah harta yang terindah dalam hidupku. 

Terima kasih kalian telah selalu berada di sampingku. Aku sangat bahagia bersahabat dengan kalian :)